QUANTUM COMPUTING: Ketahanan Digital dan Kedaulatan Teknologi Indonesia
Sinopsis Buku
Dunia sedang memasuki babak baru ketika kekuatan sebuah negara tidak lagi hanya ditentukan oleh luas wilayah, sumber daya alam, atau kekuatan militernya. Penguasaan teknologi semakin menjadi sumber daya strategis. Di tengah perubahan itu, komputasi kuantum muncul sebagai salah satu teknologi frontier yang berpotensi mengubah cara manusia menghitung, mengolah informasi, mengembangkan obat dan material, mengoptimalkan logistik, melindungi data, hingga membangun sistem pertahanan.
Buku ini membuka pembahasan dari fondasi teknologi: perbedaan komputasi klasik dan kuantum, qubit, superposisi, entanglement, quantum gates, hingga algoritma Shor dan Grover. Namun, pembahasan teknis tersebut segera dibawa pada pertanyaan yang jauh lebih strategis: apa yang terjadi jika kemampuan komputasi baru dapat mengguncang fondasi keamanan digital yang selama ini digunakan dunia? Algoritma Shor, misalnya, menghadirkan ancaman terhadap sistem kriptografi kunci publik yang menjadi penopang transaksi, komunikasi, dan identitas digital. Ancaman harvest now, decrypt later bahkan menunjukkan bahwa data yang dicuri hari ini dapat disimpan untuk dibuka pada masa depan ketika kemampuan komputasi kuantum telah memadai. Karena itulah kesiapan menuju post-quantum cryptography, crypto-agility, perlindungan infrastruktur informasi vital, dan pembangunan quantum-safe nation harus dimulai jauh sebelum komputer kuantum universal benar-benar matang. Quantum Computing
Persoalan kuantum kemudian dibawa ke panggung geopolitik. Amerika Serikat, Tiongkok, dan berbagai negara maju tidak hanya berlomba membangun komputer kuantum, tetapi juga memperebutkan talenta, paten, standar, semikonduktor, investasi, dan ekosistem riset. Teknologi berubah menjadi instrumen kekuasaan. Dalam situasi tersebut, Indonesia menghadapi pilihan penting: menjadi pengguna yang sepenuhnya bergantung pada teknologi luar atau membangun kapasitas untuk memahami, memilih, mengembangkan, mengamankan, dan memanfaatkan teknologi sesuai kepentingan nasional. Buku ini tidak menerjemahkan kedaulatan teknologi sebagai keharusan membuat seluruh perangkat sendiri. Kedaulatan justru berarti memiliki strategic autonomy—kemampuan menentukan pilihan tanpa terperangkap dalam ketergantungan yang menghilangkan ruang kebijakan nasional. Quantum Computing
Perspektif tersebut membuat komputasi kuantum ditempatkan langsung dalam kerangka Wawasan Nusantara dan Ketahanan Nasional. Ruang strategis Indonesia kini tidak hanya terdiri atas darat, laut, udara, dan ruang angkasa, tetapi juga jaringan, pusat data, komputasi awan, algoritma, infrastruktur digital, dan data nasional. Karena itu, ketahanan pada era kuantum harus mencakup keamanan data, ketahanan jaringan, kemampuan teknologi, kekuatan industri, serta kualitas sumber daya manusia. Asta Gatra digunakan untuk membaca pengaruh teknologi kuantum terhadap geografi, demografi, ekonomi, politik, sosial budaya, serta pertahanan dan keamanan. Pada titik ini, teknologi tidak lagi menjadi persoalan sektor digital semata. Ia menjadi bagian dari kemampuan negara untuk tetap berfungsi, mempertahankan kepercayaan masyarakat, dan menentukan nasibnya sendiri ketika lingkungan teknologi berubah cepat. Quantum Computing
Spesifikasi Buku
ISBN : –
Kode Buku : –
Tahun Terbit : September, 2026
Jumlah Halaman : –
Imprint : Press Lemhannas
Kategori : Ketahanan Digital
Sub Kategori : –
Dimensi buku : –
Berat : –
Penulis :
Dr. Dadang Solihin, S.E., M.A.
Komjen Pol. Dr. Gatot Tri Suryanta, M.Si.
Prof. Ir. Teddy Mantoro, MSc., PhD., SMIEEE
Ferry Preska Wathan, Ph.D
Kombes Pol Dr. Hendy F. Kurniawan, S.I.K., S.H., M.H., M.Si.
Penerbit: Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia
