TAHUN 2024

Sinopsis Buku

Sektor Perkebunan menjadi andalan Indonesia dalam hasil pangannya, tanaman perkebunan di Indonesia banyak didominasi oleh kelapa sawit, karet, gula tebu, coklat, kopi, teh, kulit kina dan juga tembakau. Buku ini mengulas secara mendalam mengenai hukum perkebunan di Indonesia, sebuah sektor yang memiliki peran penting dalam pembangunan nasional. Dari penjelasan definisi perkebunan hingga pembahasan peraturan terbaru, pembaca akan dibawa untuk memahami kerangka hukum yang mengatur segala aspek perkebunan di Indonesia.

Melalui buku ini, pembaca akan mendapatkan pemahaman yang mendalam tentang regulasi perkebunan, termasuk tentang luas maksimal dan minimal usaha perkebunan serta perubahan peraturan. Hal ini mencakup penjelasan mengenai Undang-Undang Cipta Kerja yang mempengaruhi tatanan perkebunan di Indonesia. Ditujukan bagi akademisi, praktisi & masyarakat umum yang ingin memahami hukum perkebunan, buku ini memberikan wawasan komprehensif tentang aspek hukum terkait pengelolaan perkebunan

Pembahasan dalam buku ini mencakup :

BAB I  PENDAHULUAN

BAB II  SEJARAH PERKEBUNAN DI INDONESIA

BAB III  LEGALITAS HAK-HAK PERKEBUNAN DI INDONESIA 

BAB IV  PENERAPAN ROUNDTABLE ON SUSTAINABLE PALM OIL DI INDONESIA .

BAB V  TANGGUNGJAWAB SOSIAL DAN LINGKUNGAN PERUSAHAAN PERKEBUNAN TERHADAP MASYARAKAT SEKITAR 

BAB VI  POLA PENYELESAIAN PERMASALAHAN TANAH PERKEBUNAN DI INDONESIA

BAB VII  KEWAJIBAN PERUSAHAAN DALAM FASILITASI PEMBANGUNAN KEBUN MASYARAKAT

BAB VIII  PROGRAM PEREMAJAAN SAWIT RAKYAT DI INDONESIA 

 

Spesifikasi Buku

ISBN : 978-602-6662-16-3 Kode Buku :Tahun Terbit  : 2024 Jumlah Halaman : 194 Imprint : Press Lemhannas Kategori : Hukum Sub Kategori :Dimensi buku : 23 cm x  15 cm Berat :Penerbit : Lemhannas press Penulis : Ridho Syahputra Manurung Editor/Penyunting : Reni Mayerni Telisa Aulia Falianty Zulfirman Zulham Arifudin Muda Harahap Desain Sampul dan Tata Letak : Setyo Adi Sudirman

Sinopsis Buku

Sinopsis Buku Sawit : Sawit Indonesia dalam Konstruksi Peradaban Dunia

Buku ini, berjudul “Sawit Indonesia dalam Konstruksi Peradaban Dunia”, membawa pembaca dalam perjalanan mendalam menjelajahi dunia sawit, menguraikan fakta-fakta krusial, dan menggambarkan peluang di balik setiap tantangan. Buku ini berfungsi sebagai pintu gerbang menuju pemahaman yang lebih mendalam, mengajak kita merenung tentang peran vital sawit dalam perekonomian dan keberlanjutan. Sawit sangat berperan dalam konstruksi peradaban dunia.

Secara global, tanpa kelapa sawit dari Indonesia, pasokan minyak kelapa sawit dunia akan terganggu, mengingat Indonesia menyumbang lebih dari setengah dari total produksi dunia. Secara ekonomi, harga minyak nabati lain seperti minyak kedelai, minyak bunga matahari, dan minyak rapeseed akan naik secara signifikan karena kekurangan pasokan. Kenaikan harga minyak nabati akan mendorong inflasi global dan memperlambat pertumbuhan ekonomi yang berimplikasi pula secara khusus pada industri yang menggunakan minyak sawit sebagai bahan baku, seperti industri makanan, kosmetik, dan biofuel, yang akan mengalami kesulitan mendapatkan bahan baku. Tanpa sawit, industri-industri ini harus mencari bahan baku alternatif, yang mungkin lebih mahal atau sulit ditemukan. Sawit menyediakan sumber lemak nabati yang murah dan efisien. Tanpa sawit, terjadi kesenjangan pasokan lemak nabati, yang dapat mempengaruhi produksi pangan dan harga produk pangan.

Secara sosial, tanpa sawit, jutaan petani kelapa sawit di Indonesia dan negara-negara lain akan kehilangan mata pencahariannya, yang dapat meningkatkan kemiskinan dan ketimpangan sosial. Kenaikan harga minyak nabati juga dapat memperburuk kerawanan pangan, terutama di negara-negara miskin. Indonesia tanpa sawit akan mungkin mengalami krisis diplomasi karena Indonesia memiliki peran besar dalam pasar kelapa sawit global. Hilangnya industri ini dapat mempengaruhi dinamika diplomasi dan hubungan internasional, terutama terkait isu perdagangan.

Dalam konteks ketahanan nasional, sawit berperan sebagai sumber energi terbarukan melalui produksi biodiesel dan bioenergi dan mendukung diversifikasi energi nasional. Lebih lanjut, peluang investasi dalam riset dan pengembangan teknologi terkait biodiesel dan bioenergi dari kelapa sawit yang dapat meningkatkan kontribusi sektor ini terhadap ketahanan energi nasional akan terbuka. Pengembangan material ramah lingkungan dengan dukungan riset dan inovasi akan terakselerasi yang secara positif dapat memperkuat posisi industri kelapa sawit di pasar global dan mendukung ketahanan teknologi nasional. Selain peningkatan ekspor kelapa sawit dan produk turunannya dapat meningkatkan cadangan devisa negara, diversifikasi produk olahan kelapa sawit dapat menjadi strategi untuk mendukung ketahanan pangan dengan menyediakan bahan pangan yang berkelanjutan dan terjangkau. Ekonomi lokal akan lebih diberdayakan yang berujung pada peningkatan kesejahteraan masyarakat dengan peningkatan kapasitas petani kecil dan pemberdayaan lokal yang dalam jangka panjang dapat meningkatkan ketahanan ekonomi di tingkat regional.

Buku ini juga menekankan hal penting berikut ini :

  1. Sawit bukan tanpa tantangan. Tantangan deforestasi, emisi karbon, dan konflik sosial harus dihadapi dengan solusi nyata dan terukur.
  2. Potensi sawit tak terhingga. Jika dikelola dengan baik, sawit dapat menjadi kunci ketahanan nasional, penopang ekonomi, dan solusi krisis global.
  3. Kerjasama adalah kunci. Pemerintah, pengusaha, petani, akademisi, dan masyarakat luas harus bersatu padu dalam mengelola sawit secara berkelanjutan.
  4. Masa depan sawit ada di tangan kita. Generasi muda memiliki peran penting dalam menentukan arah dan kelestarian industri sawit.

Buku ini terdiri dari delapan bab yang berfokus pada keadaan dunia tanpa sawit, bagaimana sawit sebagai wujud anugerah tuhan, kontribusi sawit pada rakyat dan kelestarian lingkungan, sawit dan perannya dalam ekonomi nasional dan proses pemulihan dari masa pandemic COVID19. Buku ini juga menjelaskan lika liku diplomasi sawit serta bagaimana sawit berperan dalam Ketahanan Nasional, dan Visi Indonesia Emas.

Pembahasan dalam buku ini mencakup :

I.JIKA DUNIA TANPA SAWIT

II.JALAN SAWIT, TANGAN TUHAN

III.SAWIT UNTUK RAKYAT

IV.SAWIT UNTUK KELESTARIAN LINGKUNGAN

V.EKONOMI SAWIT, EKONOMI KITA

VI.JURUS JITU SAWIT MELAWAN PANDEMI GLOBAL

VII.JUNGKIR BALIK DIPLOMASI SAWIT

VIII.KETAHANAN NASIONAL, DAN VISI INDONESIA ENAS

Spesifikasi Buku

9ISBN : 9-786026-662156

Kode Buku :

Tahun Terbit  : 2024

Jumlah Halaman : 253

Imprint : Press Lemhannas

Kategori : Pertanian

Sub Kategori : Perkebunan 

Dimensi buku : 23 cm x  15 cm

Berat : – 

Penerbit : Lemhannas press

Penulis : 
Reni Mayerni
Telisa Aulia Falianty
Berlian Helmy

Editor :
Hardy Hermawan
Muhammad Nalar Al Khair
Caturida Meiwanto Doktoralina

 

Sinopsis Buku

Sinopsis Buku Sawit : Merajut Indonesia dari Tanah Papua: Tata Kelola Pendidikan dan Kesehatan di Papua

Tata kelola pemerintah daerah Papua dipandang bermasalah dari segi transparansi dan akuntabilitas; efisiensi, efektivitas, serta penegakan hukum. Hal tersebut disebabkan oleh lemahnya para petinggi pemerintahan dan birokrasi daerah dalam mengelola anggaran negara, serta kurangnya keterlibatan masyarakat lokal dalam proses pembangunan. Seperti yang telah dianalisis dalam buku Papua Road Map (LIPI, 2009) menjelaskan bahwa adanya perbedaan pemahaman antara kondisi riil dan kebutuhan dasar masyarakat Papua dengan program yang ditetapkan oleh pemerintah sehingga menghambat proses memajukan pelayanan dasar, seperti pendidikan dan kesehatan di Papua. Oleh karena itu, perbaikan tata kelola pemerintahan daerah menjadi salah satu prioritas program untuk mempercepat pembangunan di sektor pendidikan dan kesehatan pemberdayaan ekonomi lokal, infrastruktur (serta digitalisasi) di seluruh Papua. Pembangunan tersebut dapat optimal apabila para pimpinan daerah, sebagai pondasi utama, dapat mengimplementasikan prinsip-prinsip tata kelola yang baik dan bersih sesuai dengan sasaran pembangunan di setiap sektor. Konflik di Papua yang tidak statis, dipengaruhi oleh adanya kepentingan aktor yang semakin banyak dengan multi kepentingan (politik dan ekonomi). Dengan konflik dan pembangunan Papua yang saling mempengaruhi, maka problematika tata kelola pemerintahan di Papua juga berkaitan dengan bagaimana proses perbaikan tata kelola global dalam mengatasi berbagai konflik yang terjadi di Papua.

Konflik yang terus berkepanjangan di Papua ini sangat mengganggu sektor pendidikan karena menimbulkan ketakutan dan ketidakamanan pada masyarakat, baik siswa maupun guru. Hal ini pun menyulitkan pemerintah dalam mengembangkan pendidikan yang berkualitas di Papua. Menurut Afriansyah (2023), sebagian besar daerah yang angka OAP-nya tinggi cenderung memiliki tingkat melek huruf yang rendah. Hal ini disebabkan oleh adanya persoalan struktural dan tantangan sosial kultural. Dalam dua puluh terakhir, sebagian besar wilayah Papua masih sulit terjangkau karena belum terhubung oleh infrastruktur jalan, jembatan, dan transportasi lain yang maksimal untuk mendukung mobilitas manusia secara berkala, mudah, dan terjangkau harganya. Selain itu, adanya masalah terkait ketersediaan tenaga pengajar dengan kapasitas pengetahuan dan pengajaran yang diperlukan di setiap daerah. Ditambah dengan metode pengajaran yang tidak sesuai dengan pemahaman masyarakat lokal sulit dijadikan dasar membuat generalisasi bahwa SDM Papua memiliki tingkat kecerdasan yang rendah.

Sektor kesehatan di Papua juga memiliki akar permasalahan dan kendala yang mempengaruhi tingkat kesehatan masyarakat Papua. Lekatnya adat istiadat dan kepercayaan masyarakat Papua yang membuat mereka enggan ke Puskesmas menjadi salah satu alasan kurang berkembangnya akses terhadap layanan kesehatan di Papua yang ditambah dengan masyarakat tersebar dengan bermukim di dataran tinggi, dataran rendah atau lembah yang minim akses ke fasilitas kesehatan. Oleh karena itu pula, fasilitas yang dimiliki oleh Puskesmas yang ada di daerah juga kurang memadai karena adanya hambatan logistik karena letaknya yang berada jauh dari kota besar.Pemerintah daerah pun tidak memberikan edukasi terkait pola hidup sehat, serta adanya faktor keterbatasan ekonomi yang menyebabkan tidak sedikit masyarakat Papua yang menderita malnutrisi, dan berbagai penyakit lainnya yang menjadi ancaman serius bagi masyarakat Papua.

Selama kepemimpinan Presiden Joko Widodo, pengembangan dan pembangunan infrastruktur di seluruh wilayah Indonesia menjadi prioritas karena dengan meningkatnya pembangunan infrastruktur, maka perekonomian lokal dan taraf hidup masyarakat juga akan meningkat, termasuk mereka yang berada di wilayah terpencil. Beberapa proyek infrastruktur di Papua telah dibangun dan dapat digunakan, seperti Trans-Papua pada 2018, elektrifikasi pada 2019, dan pembangunan tol laut (Mongabay.co.id, 2017). Sehingga Presiden mengatakan bahwa perekonomian Papua akan tumbuh menjadi lebih pesat dan distribusi logistik untuk barang serta mobilitas masyarakat pun meningkat.

Dalam menangani isu Papua dengan pendekatan kesejahteraan melalui analisis tata kelola pemerintahan yang baik dan berfokus pada empat sektor prioritas Otonomi Khusus di Tanah Papua, yaitu pendidikan, kesehatan, pemberdayaan ekonomi lokal, dan pembangunan infrastruktur fisik serta digital. Buku “Merajut Indonesia dari Tanah Papua: Tata Kelola Pendidikan dan Kesehatan di Papua” ini memberikan rekomendasi untuk Pemerintah Republik Indonesia dengan bersumber pada puluhan focused group discussion (FGD) yang diselenggarakan oleh Kedeputian Pengkajian Strategis Lemhannas. Buku ini berperan untuk menyatukan cara pandang para pemerhati isu Papua untuk secara bersama mencari solusi bagi perdamaian dan pembangunan Tanah Papua yang bersifat permanen agar terwujudnya program pembangunan yang terpadu.

Spesifikasi Buku

ISBN :

Kode Buku :

Tahun Terbit  : 2024

Jumlah Halaman : 139 Halaman

Imprint : Press Lemhannas

Kategori : Referensi Sosial

Sub Kategori : Kebijakan Publik

Dimensi buku : 21 cm x  14,8 cm

Berat : – 

Penerbit : Lemhannas press

Penulis : 
Herry Heryawan
Reni Mayerni
Adriana Elisabeth
Ian Montratama
Kristin Samah

Margaretha Hanita

Desain Sampul dan Tata Letak :
Brilliando Lintan
Risma Putri 

 

Sinopsis Buku

Sinopsis Buku : Mitigasi Konflik Papua untuk Ketahanan Nasional

Papua merupakan salah satu wilayah strategis Indonesia yang menyimpan dinamika kompleks dalam perjalanan integrasinya ke dalam NKRI. Buku ini menyajikan analisis mendalam mengenai konflik berkepanjangan di Papua dan urgensi penanganannya sebagai bagian integral dari ketahanan nasional. Berlandaskan pendekatan multidimensi, buku ini mengulas akar persoalan historis, politik, ekonomi, dan sosial-budaya yang melatarbelakangi ketegangan di Papua.

Melalui kajian sistematis, penulis menyoroti berbagai peristiwa kunci dari masa Orde Baru hingga era reformasi, serta mengevaluasi kebijakan pemerintah pusat dan daerah, termasuk pelaksanaan Otonomi Khusus, pemekaran wilayah, hingga pendekatan pembangunan berbasis infrastruktur. Buku ini juga mengupas peran aktor lokal, nasional, hingga internasional dalam eskalasi dan upaya penyelesaian konflik, serta menyajikan tujuh arsitektur kolaboratif sebagai rekomendasi mitigasi jangka panjang.
Diperuntukkan bagi akademisi, praktisi kebijakan, serta masyarakat umum yang peduli terhadap masa depan Papua dan ketahanan nasional Indonesia, buku ini memberikan wawasan komprehensif tentang pentingnya strategi pencegahan konflik yang berbasis partisipasi, keadilan sosial, dan penghormatan terhadap hak masyarakat adat Papua.

*Pembahasan dalam buku ini mencakup:*
– Bagian I: Paradoks Papua: Antara Harapan dan Realita  
– Bagian II: Pendekatan Multidimensi Memutus Siklus Kekerasan di Papua  
– Bagian III: Skala Prioritas Penyelesaian Konflik Papua  
– Bagian IV: Tujuh Opsi Arsitektur Kolaboratif untuk Mitigasi Penyelesaian Konflik di Papua

Spesifikasi Buku

ISBN : –

Kode Buku : –

Tahun Terbit  : 2024

Jumlah Halaman : 147 Halaman

Imprint : Press Lemhannas

Kategori : Ketahanan Nasional, Keamanan, Sosial Politik

Sub Kategori : –

Dimensi buku : –

Berat : – 

Penulis : 
Margaretha Hanita 
Reni Mayerni
Rezya Agnesica Helena Sihaloho

Peninjau Buku: Cahyo Pamungkas  
Desain Sampul: Sudarwanto Budi Raharjo  
Tata Letak: Wiratmo Probo  
Penerbit: Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia

Sinopsis Buku

Sinopsis Buku : 

Antisipasi Ketidakpastian, Penguatan Ketahanan Nasional: Pengukuran Risiko Krisis dan Proyeksi 2025

Pembuatan kebijakan dihadapkan pada ketidakpastian akibat disrupsi teknologi, geopolitik, lingkungan, dan ekonomi. Situasi yang tidak teridentifikasi (unknown of unknowns) menjadi tantangan bagi para pemimpin dan pengambil kebijakan sehingga dibutuhkan kelincahan, adaptabilitas, dan ketahanan. 
Lembaga Ketahanan Nasional RI sebagai lembaga yang membidangi ketahanan nasional, melakukan kajian pengukuran risiko di tingkat global dan nasional sebagai upaya pengelolaan potensi munculnya krisis yang bisa terjadi kapan saja. Kajian yang disebut Risiko Krisis ini dilakukan menggunakan pendekatan lintas gatra, melakukan pengamatan dan penilaian risiko dengan mengidentifikasi variabel dan indikator lintas gatra di tingkat global dan regional yang meliputi isu-isu geopolitik, geoekonomi, kondisi politik – keamanan nasional, dan ekonomi makro nasional.
Kajian ini menyajikan pengukuran (assessment) geopolitik, geoekonomi, kondisi politik – keamanan nasional, dan ekonomi makro nasional selama tahun 2024 sebagai gambaran riil risiko ketidakpastian yang dihadapi, untuk memproyeksikan isu dan langkah strategis yang perlu dilakukan untuk menjaga ketahanan nasional di tahun 2025. Menggunakan pendekatan skenario dan angsa hitam, situasi yang berpengaruh strategis di tingkat global dan nasional ditilik menggunakan metode net assessment.

Spesifikasi Buku

ISBN : –

Kode Buku : –

Tahun Terbit  : 2025

Jumlah Halaman : 235 Halaman

Imprint : Press Lemhannas

Kategori : Ketahanan Nasional, Keamanan, Sosial Politik

Sub Kategori : –

Dimensi buku : –

Berat : – 

Penulis : 

Ni Made Vira Saraswati
Ridwan Amin
Syubhan Martawiguna
Sarah Megawati
Reni Mayerni
Tb. Ace Hasan Syadzily
Reda Wicaksono
Eldo Herbadella Tobing
Harry Johan Yanwar
Arya Pambudi
Sriyanto
Muhammad Haq Faruqi

Penanggung Jawab
Gubernur Lemhannas RI
Dr. TB. Ace Hasan Syadzily, M.Sc.
Deputi Pengkajian Strategik Lemhannas RI
Prof. Dr. Ir. Reni Mayerni, M.P.

Supervisor
Direktur Pengkajian Bidang Ideologi dan Politik
Brigjen TNI Aloysius Nugroho Santoso, S.E., M.M.

Penyunting
Nety Nurda, S.T., M.T., Ph.D.

Desainer Grafis
Dian Nurdiansyah
Muslim
Zakaria

Penerbit: Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia

cover depan lemhannas RI penjaga visi bangsa
cover belakang lemhannas RI penjaga visi bangsa

Sinopsis Buku

Sinopsis Buku :

LEMHANNAS RI PENJAGA VISI BANGSA:

STRATEGI KEPEMIMPINAN MENUJU INDONESIA EMAS 2045


Pidato Presiden Republik Indonesia, Bapak Prabowo Subianto, pada Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa ke-80 di New York, 23 September 2025, menjadi sebuah tonggak bersejarah bagi bangsa kita. Di hadapan para pemimpin dunia, beliau dengan tegas menyuarakan panggilan moral: bahwa Indonesia, dengan sejarah panjang perjuangannya, dengan semangat solidaritas dan keadilan, tidak hanya hadir sebagai bangsa merdeka, tetapi juga sebagai pilar kemanusiaan global. Presiden mengingatkan bahwa perjuangan bangsa Indonesia melawan penjajahan dan penindasan telah menempanya menjadi bangsa yang berkomitmen pada perdamaian, kemanusiaan, dan solidaritas lintas batas.
Kehadiran buku ini adalah simbol komitmen Lemhannas RI dalam mengawal visi bangsa. Ia juga merupakan pengingat bahwa perjalanan menuju Indonesia Emas 2045 adalah perjalanan panjang yang memerlukan tekad, pengorbanan, dan keberanian moral.
Dr. H. TB. Ace Hasan Syadzily, M. Si., Gubernur Lemhannas RI

Lemhannas RI, melalui karya buku ini, memperlihatkan bagaimana strategi kepemimpinan harus menjadi jembatan antara agenda pembangunan dan agenda kebangsaan. Tanpa kepemimpinan visioner, pembangunan mudah terjebak pada rutinitas teknokratis. Sebaliknya, tanpa pembangunan yang kuat, kepemimpinan kebangsaan akan kehilangan pijakan. Oleh karena itu, kita memerlukan sinergi antara Lemhannas RI dan Bappenas sebagai mitra strategis: yang satu memperkuat dimensi kepemimpinan dan ketahanan, yang lain memastikan visi tersebut terwujud dalam rencana, program, dan kebijakan pembangunan.

Prof. Dr. Rachmat Pambudy, Menteri PPN/Kepala Bappenas

Kehadiran buku ini menjadi pengingat bahwa visi besar Indonesia tidak boleh tercerabut dari akar sejarah dan jati diri bangsa. Ketahanan nasional tidak hanya ditentukan oleh kekuatan militer atau ekonomi, tetapi juga oleh kualitas aparatur, kekuatan institusi, dan budaya birokrasi yang berlandaskan Pancasila. Lemhannas RI sebagai penjaga visi bangsa memberikan fondasi strategis, sementara Kementerian PANRB memastikan bahwa fondasi itu diterjemahkan ke dalam tata kelola pemerintahan yang efektif dan berdampak langsung bagi rakyat.

Saya berharap buku ini dapat menjadi inspirasi bagi seluruh aparatur negara, pemimpin publik, dan masyarakat luas. Bacalah setiap halaman dengan kesadaran bahwa kita semua adalah bagian dari perjalanan panjang menuju Indonesia Emas 2045. Perjalanan ini tidak mudah. Ia akan dipenuhi dengan tantangan, krisis, bahkan pengorbanan. Namun, dengan kepemimpinan visioner, birokrasi yang berintegritas, serta persatuan seluruh anak bangsa, kita akan mampu melewati semuanya.

Rini Widyantini, S.H., M.P.M., Menteri PAN-RB

Spesifikasi Buku

ISBN : –

Kode Buku : –

Tahun Terbit  : 2025

Jumlah Halaman : 530 Halaman

Imprint : Press Lemhannas

Kategori : Ketahanan Nasional, Keamanan, Sosial Politik

Sub Kategori : –

Dimensi buku : –

Berat : – 

Penulis : 

Dr. Dadang Solihin, S.E., M.A
Komjen Pol. Drs. RZ Panca Putra S., M.Si
Prof. Dr. Ir. Dadan Umar Daihani, DEA, IPU, Asean Eng
Andrea Hynan Poeloengan, S.H., M.Hum., MTCP
Brigjen Pol. Ratno Kuncoro, S.Ik., M.Si

Editor 
Kurniawan Ariadi, SIP., M.Com
Abdul Hakim, S.Sos., M.Si.

Penerbit: Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia

Screenshot 2025-11-13 173513
Screenshot 2025-11-13 173419

Sinopsis Buku

Sinopsis Buku :

LEMHANNAS RI PENJAGA VISI BANGSA:

Mengalir Bersama Takdir Jalan Sunyi Menuju Ilahi

Hidup adalah perjalanan menuju pulang. Di setiap langkahnya, manusia dihadapkan pada
kebahagiaan dan kehilangan, keberhasilan dan ujian, yang semuanya mengalir dalam arus
takdir Ilahi. Buku Mengalir Bersama Takdir: Jalan Sunyi Menuju Ilahi adalah refleksi spiritual
yang mendalam tentang bagaimana manusia belajar menerima, memahami, dan berdamai
dengan takdir sebagai wujud kasih sayang Ilahi.
Ditulis dengan bahasa yang lembut, jernih, dan penuh kedalaman makna, buku ini mengajak
pembaca untuk menapaki jalan kontemplatif menuju kesadaran diri dan kedekatan dengan
Sang Pencipta. Setiap babnya membuka ruang renungan: tentang hidup sebagai amanah,
tentang takdir yang tak selalu dapat dimengerti logika, tentang ikhlas, syukur, doa, kesendirian,
hingga kerinduan kepada Ilahi. Semua disajikan dalam narasi yang mengalir seperti
dzikir—bukan menggurui, melainkan menemani jiwa yang tengah mencari arah pulang.
Buku ini lahir dari perjalanan batin dua penulis yang meniti jalan sunyi menuju Ilahi, bukan
sebagai pengajaran dogmatis, tetapi sebagai percakapan hati. Ia menyingkap bahwa dalam
setiap kehilangan ada hikmah, dalam setiap air mata ada cinta, dan dalam setiap
takdir—seberat apa pun—ada bahasa rahmat yang hanya bisa dibaca oleh hati yang tenang.
Melalui 15 bab yang disusun seperti anak tangga ruhani, pembaca diajak menyusuri
maqam-maqam batin: dari kesadaran akan hidup sebagai amanah hingga mencapai
ketenangan dalam kepasrahan total kepada Allah. Di penghujungnya, buku ini mengantarkan
kita pada kesadaran tertinggi—bahwa pulang bukanlah akhir perjalanan, melainkan kembalinya
jiwa kepada rumah sejatinya: kedekatan dengan Ilahi.
Mengalir Bersama Takdir bukan hanya buku spiritual, tetapi teman perjalanan jiwa—lentera
kecil bagi siapa pun yang tengah menapaki jalan sunyi kehidupan. Ia mengajarkan bahwa takdir
bukan untuk ditentang, melainkan untuk dijalani dengan cinta, kelembutan, dan kesadaran
penuh.

Spesifikasi Buku

ISBN : –

Kode Buku : –

Tahun Terbit  : 2025

Jumlah Halaman : 434 Halaman

Imprint : Press Lemhannas

Kategori : Religi

Sub Kategori : –

Dimensi buku : –

Berat : – 

Penulis : 

Dr. H. TB.Ace Hasan Syadzily. Msi.

Kolonel Sus H. Abdulah, M.Ag

Editor 
DR. H. Dadang Solihin, SE., MA

Penerbit: Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia

Screenshot 2025-11-17 110600
Screenshot 2025-11-17 110725

Sinopsis Buku

Sinopsis Buku :

OPTIMALISASI PROYEK STRATEGIS NASIONAL UNTUK KETAHANAN NASIONAL

Optimalisasi Proyek Strategis Nasional untuk Ketahanan Nasional: Jalan Menuju Indonesia Emas 2045
Buku “Optimalisasi Proyek Strategis Nasional untuk Ketahanan Nasional: Jalan Menuju Indonesia Emas 2045” lahir dari semangat kebangsaan yang menyala di tengah tantangan global yang semakin kompleks, dan dari kesadaran mendalam bahwa pembangunan nasional bukan sekadar urusan teknokratis melainkan bagian dari perjuangan bangsa untuk menegakkan kedaulatan, keadilan, dan kemakmuran rakyat.
Buku ini menjadi bukti bahwa kolaborasi antara Bappenas sebagai perencana pembangunan nasional dan Lemhannas RI sebagai penjaga nilai kebangsaan mampu melahirkan gagasan besar bagi masa depan Indonesia. Sejalan dengan semangat Undang-Undang Nomor 59 Tahun 2024 tentang RPJPN 2025–2045, buku ini menegaskan bahwa pembangunan nasional harus berlandaskan pada empat konsensus dasar kebangsaan: Pancasila, UUD 1945, Wawasan Nusantara, dan Ketahanan Nasional. Dalam bingkai itulah PSN ditempatkan sebagai proyek kebangsaan yang tidak hanya menghasilkan pertumbuhan ekonomi tetapi juga memperkuat persatuan, kedaulatan, dan martabat bangsa.

Lemhannas RI berkomitmen untuk terus menjadi pusat keunggulan strategis dalam mengawal kebijakan pembangunan nasional berbasis ketahanan. Melalui pendidikan kader pimpinan nasional, pengkajian kebijakan publik, dan diplomasi akademik, Lemhannas memastikan bahwa setiap pemimpin masa depan bangsa memiliki ketajaman analisis, kejernihan moral, dan keberanian untuk menegakkan kepentingan nasional di atas segalanya. PSN, dalam pandangan Lemhannas, bukan hanya proyek pemerintah tetapi proyek kebangsaan yang menuntut konsensus politik, moralitas publik, dan kepemimpinan yang berjiwa negarawan.
Kepada para penulis dan editor, saya menyampaikan penghargaan setinggi-tingginya. Buku ini adalah contoh nyata bahwa kolaborasi antara lembaga perencanaan dan lembaga ketahanan dapat melahirkan gagasan strategis yang bernilai tinggi bagi masa depan bangsa.
Dr. H. TB. Ace Hasan Syadzily, M. Si.
Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia

Buku ini menegaskan bahwa PSN bukan hanya proyek ekonomi melainkan bagian integral dari strategi ketahanan nasional. Dalam konsep Astagatra—Trigatra dan Pancagatra—yang menjadi landasan konseptual Lemhannas, pembangunan fisik tidak akan berarti tanpa penguatan ideologi, politik, sosial budaya, dan pertahanan keamanan. Pembangunan infrastruktur tanpa pembangunan karakter hanya akan melahirkan kemajuan semu. Sebaliknya, pembangunan yang memadukan kemajuan material dan spiritual akan menciptakan bangsa yang tangguh, mandiri, dan bermartabat.
Saya menyampaikan apresiasi dan penghargaan setinggi-tingginya kepada para penulis, editor, dan Lemhannas Press atas penerbitan karya yang berharga ini. Semoga buku “Optimalisasi Proyek Strategis Nasional untuk Ketahanan Nasional: Jalan Menuju Indonesia Emas 2045” menjadi rujukan penting bagi para pengambil kebijakan, akademisi, dan seluruh komponen bangsa dalam merancang pembangunan nasional yang tangguh, inklusif, dan berkelanjutan.
Prof. Dr. Rachmat Pambudy
Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional / Kepala Bappenas

Spesifikasi Buku

ISBN : –

Kode Buku : –

Tahun Terbit  : 2025

Jumlah Halaman :  420 Halaman

Imprint : Press Lemhannas

Kategori : Ekonomi Nasional

Sub Kategori : –

Dimensi buku : –

Berat : – 

Penulis : 

Kurniawan Ariadi, S.I.P., M.Com.

Dr. Dadang Solihin, SE., M.A.

Editor 
Dimas Hartanto, S.T., M.F.

Dimas Kurnia Aditiawan, S.E., M.Si.

Penerbit: Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia

Cover Depan Diplomasi Ketahanan Nasional[1]
Cover belakang Diplomasi Ketahanan Nasional[1]

Sinopsis Buku

Sinopsis Buku :

DIPLOMASI KETAHANAN NASIONAL 

Dalam dunia yang semakin multipolar, diplomasi tidak lagi sekadar urusan politik luar negeri — ia telah menjadi instrumen utama Ketahanan Nasional. Buku Diplomasi Ketahanan Nasional menghadirkan perspektif baru tentang bagaimana Indonesia dapat memadukan kekuatan moral, politik, ekonomi, sosial-budaya, dan pertahanan-keamanan untuk menjaga kedaulatan sekaligus berkontribusi pada perdamaian dunia. Disusun oleh Laksamana Muda TNI Trismawan Djonisajoko, Brigjen Pol. Ratno Kuncoro, dan Dr. Dadang Solihin, serta disunting oleh Galura Wirayudanto, buku ini merupakan karya strategis Lemhannas RI yang menjembatani teori dan praktik diplomasi. Melalui analisis mendalam terhadap lingkungan global pasca-konflik Israel–Palestina, pergeseran kekuatan dunia menuju tatanan multipolar, serta tantangan baru seperti perang informasi, krisis energi, dan perubahan iklim, buku ini menegaskan pentingnya diplomasi berbasis Astagatra — delapan gatra Ketahanan Nasional — sebagai fondasi bagi bangsa yang resilien dan berdaulat. Lebih dari sekadar wacana akademik, buku ini menawarkan roadmap diplomasi nasional menuju Indonesia Emas 2045. Ia menguraikan strategi membangun diplomasi yang berdaya saing melalui inovasi digital, diplomasi ekonomi hijau, diplomasi maritim, hingga peran Indonesia sebagai bridge nation di tengah rivalitas kekuatan besar. Disertai pembahasan best practice dari berbagai negara — mulai dari Norwegia, Jepang, Korea Selatan, hingga Turki — buku ini memberikan pembelajaran berharga tentang bagaimana diplomasi dapat menjadi kekuatan transformasional dalam membangun kemandirian bangsa. Melalui pendekatan komprehensif, buku ini menegaskan bahwa diplomasi Indonesia harus berakar pada nilai Pancasila dan UUD 1945, berpijak pada kepentingan nasional, namun tetap berpihak pada kemanusiaan universal. Ia memadukan idealisme dan realisme, moralitas dan strategi, sehingga diplomasi bukan hanya alat kekuasaan, tetapi jalan peradaban untuk menjaga martabat bangsa dan mewujudkan dunia yang damai, adil, dan berkeadaban. Buku ini wajib dibaca oleh para diplomat, perwira strategis, akademisi, dan pembuat kebijakan
yang ingin memahami arah baru politik luar negeri Indonesia. Dengan semangat Lemhannas RI, Diplomasi Ketahanan Nasional adalah panggilan bagi seluruh anak bangsa untuk menyadari bahwa kekuatan sejati Indonesia tidak hanya terletak pada senjata atau sumber daya, tetapi pada kebijaksanaan diplomasi yang berpijak pada Ketahanan Nasional — demi Indonesia yang berdaulat, mandiri, dan berkontribusi nyata bagi perdamaian dunia.

Spesifikasi Buku

ISBN : –

Kode Buku : –

Tahun Terbit  : 2025

Jumlah Halaman :  486 Halaman

Imprint : Press Lemhannas

Kategori : Geopolitik Global

Sub Kategori : –

Dimensi buku : –

Berat : – 

Penulis : 

Laksda TNI Trismawan Djonisajoko, S.E., M.M., M.Tr.Opsla

Brigjen Pol. Ratno Kuncoro, S.Ik., M.Si

Dr. Dadang Solihin, S.E., M.A..

Editor 
Galura Wirayudanto, S.H., LL.M., CHRP, CRMO

 

Penerbit: Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia

Screenshot 2026-02-22 225211

Sinopsis Buku

Sinopsis Buku :

Arsitektur Kepemimpinan Nasional Masa Depan: Strategi, Eksekusi, dan Ketangguhan Pemimpin untuk Ketahanan Nasional

Di tengah perubahan global yang semakin cepat, kompleks, dan penuh ketidakpastian—ditandai oleh rivalitas geopolitik, disrupsi teknologi, krisis multidimensi, serta fragmentasi sosial—kepemimpinan nasional menjadi faktor penentu arah perjalanan bangsa. Indonesia, dengan posisi geopolitik strategis dan keragaman sosial-budaya yang luas, membutuhkan kepemimpinan yang tidak hanya administratif atau teknokratis, tetapi visioner, tangguh, dan berakar pada nilai kebangsaan. Buku ini hadir sebagai refleksi strategis sekaligus kontribusi intelektual untuk menjawab pertanyaan mendasar: bagaimana merancang arsitektur kepemimpinan nasional yang mampu menjaga ketahanan negara di masa depan.
Arsitektur Kepemimpinan Nasional Masa Depan memposisikan kepemimpinan bukan sebagai fenomena individual, melainkan sebagai sistem strategis yang dibangun dari interaksi antara pemimpin, institusi, nilai ideologis, serta lingkungan global. Kepemimpinan dipahami sebagai mekanisme penggerak yang menyatukan visi jangka panjang, kapasitas eksekusi kebijakan, dan ketangguhan moral demi memastikan keberlanjutan negara. Dalam kerangka tersebut, ketahanan nasional dipandang sebagai tujuan strategis yang menuntut integrasi antara aspek ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, serta pertahanan dan keamanan.
Melalui pembahasan yang sistematis, buku ini menelusuri dimensi-dimensi penting kepemimpinan nasional masa depan: kepemimpinan visioner yang mampu membaca dinamika global, transformasi kelembagaan negara, efektivitas eksekusi pembangunan, diplomasi strategis dan manajemen konflik, penetapan prioritas nasional berbasis geostrategi, serta pengelolaan krisis sebagai peluang penguatan negara. Di dalamnya juga dibahas keberlanjutan kepemimpinan lintas generasi, pengembangan sumber daya manusia strategis, pola pikir pemimpin abad ke-21, hingga proyeksi kepemimpinan menuju visi Indonesia Emas 2045. Keseluruhan tema ini membentuk kerangka utuh mengenai bagaimana pemimpin nasional dirancang, dibina, dan diuji dalam realitas perubahan global.
Keunggulan buku ini terletak pada integrasi perspektif teoritis dan praksis. Ia menggabungkan pemikiran strategis ketahanan nasional, pengalaman kelembagaan negara, serta referensi literatur kepemimpinan global untuk menghasilkan pendekatan yang kontekstual bagi Indonesia. Kepemimpinan masa depan tidak dipahami sebagai adopsi model asing, melainkan sebagai sintesis antara wawasan global dan nilai Pancasila, UUD 1945, NKRI, serta Bhinneka Tunggal Ika sebagai fondasi kehidupan berbangsa dan bernegara. Dengan demikian, buku ini menawarkan pendekatan kepemimpinan yang adaptif tanpa kehilangan jati diri nasional.
Lebih jauh, buku ini menegaskan bahwa tantangan abad ke-21 menuntut pemimpin dengan kemampuan berpikir sistemik, literasi geopolitik, integritas moral, serta kapasitas pengambilan keputusan berbasis analisis strategis dan intelijen. Kepemimpinan yang tangguh diharapkan mampu menjaga keseimbangan antara keterbukaan global dan kedaulatan nasional, antara inovasi dan stabilitas, serta antara kepentingan jangka pendek dan keberlanjutan jangka panjang. Dalam konteks ini, kepemimpinan nasional bukan hanya soal kekuasaan, tetapi amanah sejarah untuk mengarahkan bangsa menuju masa depan yang berdaulat, adil, dan bermartabat.
Ditujukan bagi pemimpin dan calon pemimpin, akademisi, praktisi kebijakan publik, serta pembaca yang peduli pada masa depan bangsa, buku ini merupakan undangan reflektif untuk memikirkan kembali arah kepemimpinan Indonesia. Ia mengajak pembaca memahami bahwa masa depan negara tidak hanya ditentukan oleh kekuatan sumber daya, tetapi oleh kualitas arsitektur kepemimpinan yang mampu menggerakkan seluruh potensi nasional secara terintegrasi. Pada akhirnya, buku ini menegaskan satu pesan penting: kepemimpinan nasional adalah amanah sejarah — dan hanya melalui kepemimpinan visioner, efektif, serta berkarakter negarawan, Indonesia dapat menapaki masa depan dengan ketangguhan, martabat, dan kepercayaan diri sebagai bangsa besar.

Spesifikasi Buku

ISBN : –

Kode Buku : –

Tahun Terbit  : 2026

Jumlah Halaman :  –

Imprint : Press Lemhannas

Kategori : Kepemimpinan Nasional

Sub Kategori : –

Dimensi buku : –

Berat : – 

Penulis : 

Dr. H. TB. Ace Hasan Syadzily, M. Si.

Dr. Dadang Solihin, S.E, M.A

Kombes Pol Aman Guntoro, S.I.K., M.H.

Editor 

Penerbit: Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia

Screenshot 2026-02-22 233236
Screenshot 2026-02-22 233537

Sinopsis Buku

Sinopsis Buku :

Transformasi Ekonomi Hijau Indonesia menuju Net Zero Emission 2060

Di tengah percepatan krisis iklim global, perubahan geopolitik energi, dan transformasi ekonomi dunia menuju rendah karbon, Indonesia menghadapi sebuah titik sejarah yang menentukan arah masa depannya. Transformasi Ekonomi Hijau Indonesia menuju Net Zero Emission 2060 hadir sebagai refleksi strategis sekaligus peta jalan intelektual untuk memahami bagaimana bangsa ini dapat merespons tantangan zaman melalui perubahan paradigma pembangunan. Buku ini memandang ekonomi hijau bukan sebagai agenda lingkungan semata, melainkan sebagai strategi kebangsaan yang menyatukan kepentingan kedaulatan, kesejahteraan, dan keberlanjutan dalam satu kerangka pembangunan jangka panjang.
Dengan pendekatan lintas disiplin dan perspektif ketahanan nasional, buku ini menelusuri keterkaitan erat antara perubahan iklim, dinamika geopolitik global, serta posisi strategis Indonesia dalam percaturan internasional. Pembahasan dimulai dari analisis perubahan iklim sebagai ancaman non-militer yang berdampak pada stabilitas ekonomi, sosial, dan keamanan negara, hingga eksplorasi potensi sumber daya alam Indonesia sebagai modal ekologis untuk membangun ekonomi hijau yang berdaulat. Buku ini menegaskan bahwa transformasi menuju Net Zero Emission 2060 bukan sekadar komitmen internasional, melainkan momentum untuk melakukan restrukturisasi ekonomi nasional menuju nilai tambah, daya saing global, dan keadilan sosial.
Melalui kajian mendalam, pembaca diajak memahami berbagai dimensi strategis transformasi—mulai dari transisi energi, hilirisasi industri rendah karbon, kebijakan fiskal hijau, hingga pembangunan sumber daya manusia yang adaptif terhadap ekonomi masa depan. Buku ini juga menyoroti pentingnya integrasi kebijakan lintas sektor, penguatan kelembagaan nasional, serta peran diplomasi iklim dalam menjaga posisi tawar Indonesia di tengah arsitektur ekonomi global yang terus berubah. Dalam perspektif ini, ekonomi hijau dipandang sebagai instrumen geopolitik sekaligus sarana memperkuat ketahanan nasional dan kemandirian pembangunan.
Tidak berhenti pada aspek struktural, buku ini memberi perhatian besar pada dimensi sosial transformasi. Transisi hijau dipahami sebagai proses yang harus adil, inklusif, dan tidak meninggalkan kelompok rentan. Pembahasan mengenai just transition, perubahan pola konsumsi, pendidikan literasi iklim, dan penciptaan lapangan kerja hijau menunjukkan bahwa keberhasilan transformasi ekonomi tidak hanya diukur dari indikator makro, tetapi juga dari kemampuannya memperkuat kohesi sosial dan kesejahteraan masyarakat. Perspektif ini menegaskan bahwa pembangunan berkelanjutan harus berakar pada nilai-nilai Pancasila serta mandat konstitusi untuk mengelola sumber daya alam bagi kemakmuran rakyat.
Sebagai penutup, buku ini merumuskan peta jalan transformasi ekonomi hijau Indonesia menuju 2060, menempatkan ekonomi hijau sebagai fondasi Indonesia Emas 2045 sekaligus warisan peradaban bagi generasi mendatang. Ia mengajak pembaca melihat transisi ini bukan sekadar respons terhadap tekanan global, melainkan kesempatan strategis untuk meneguhkan identitas bangsa sebagai aktor aktif dalam menentukan arah masa depan dunia. Ditujukan bagi pembuat kebijakan, akademisi, praktisi, dan masyarakat luas, buku ini menjadi rujukan reflektif sekaligus inspiratif dalam merancang pembangunan yang tangguh, berdaulat, dan berkelanjutan.
Pada akhirnya, karya ini menegaskan satu pesan utama: transformasi ekonomi hijau bukan hanya tentang menurunkan emisi, tetapi tentang membangun masa depan bangsa—masa depan yang adil, berdaya tahan, dan bermartabat—sebagai bagian dari kontribusi Indonesia bagi keberlanjutan peradaban global.

Spesifikasi Buku

ISBN : –

Kode Buku : –

Tahun Terbit  : 2026

Jumlah Halaman :  –

Imprint : Press Lemhannas

Kategori : Ekonomi Hijau

Sub Kategori : –

Dimensi buku : –

Berat : – 

Penulis : 

Dr. H. TB. Ace Hasan Syadzily, M. Si.

Prof. Dr. Ratna Wardhani, SE, Ak, MSi

Dr. Dadang Solihin, S.E, M.A.

Irjen Pol (Purn) Dr. Drs. E. Winarto Hadiwasito, S.H., M.Si

Editor 

Penerbit: Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia

Cover depan Peran Lemhannas RI-2.jpg
Cover belakang Peran Lemhannas RI-2.jpg

Sinopsis Buku

Sinopsis Buku :

Peran Lemhannas RI dalam Mencapai 17 Tujuan Pembangunan Nasional 2045

Pembangunan nasional bukan sekadar rangkaian program teknokratis atau capaian statistik, melainkan perjalanan historis bangsa dalam mewujudkan cita-cita kemerdekaan. Dalam konteks menuju satu abad Indonesia merdeka, Peran Lemhannas RI dalam Mencapai 17 Tujuan Pembangunan Nasional 2045 hadir sebagai refleksi strategis yang menempatkan pembangunan sebagai misi kebangsaan—sebuah ikhtiar kolektif untuk membangun negara yang bersatu, berdaulat, maju, dan berkelanjutan. Buku ini menegaskan peran Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia (Lemhannas RI) sebagai institusi strategis yang tidak hanya membina kepemimpinan nasional, tetapi juga mengawal arah pembangunan jangka panjang dalam kerangka ketahanan nasional.
Berangkat dari visi Indonesia Emas 2045 sebagaimana dirumuskan dalam RPJPN 2025–2045, buku ini membedah tujuh belas tujuan pembangunan nasional sebagai kompas kebijakan negara—mulai dari kesehatan, pendidikan, perlindungan sosial, penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, ekonomi hijau, transformasi digital, hingga ketahanan energi, lingkungan, dan resiliensi bencana. Keseluruhan tujuan tersebut dipahami sebagai sistem yang saling terhubung, yang menuntut integrasi kebijakan lintas sektor dan kepemimpinan strategis yang berlandaskan nilai kebangsaan. Melalui pendekatan Astagatra, pembangunan diposisikan bukan hanya sebagai agenda ekonomi atau administratif, melainkan sebagai strategi memperkuat daya tahan bangsa menghadapi dinamika global.
Kekuatan buku ini terletak pada integrasi antara kerangka konseptual, kebijakan nasional, dan praksis kepemimpinan. Lemhannas RI digambarkan sebagai “kawah candradimuka” yang menyiapkan pemimpin bangsa dengan integritas, wawasan geopolitik, dan kapasitas pengambilan keputusan strategis. Melalui pendidikan, pengkajian kebijakan, dan pemantapan nilai kebangsaan, lembaga ini berperan memastikan bahwa pembangunan tidak berjalan sektoral, tetapi terarah pada konsistensi visi kebangsaan lintas generasi. Buku ini juga menyoroti bagaimana kepemimpinan strategis menjadi faktor kunci dalam mengelola tantangan abad ke-21—mulai dari disrupsi teknologi, perubahan iklim, hingga kompetisi geopolitik global.
Secara analitis dan naratif, buku ini menguraikan keterkaitan antara pembangunan manusia, transformasi ekonomi, tata kelola pemerintahan, stabilitas hukum, diplomasi global, serta kekuatan sosial budaya sebagai fondasi ketahanan nasional. Pembaca diajak memahami bahwa indikator pembangunan—seperti peningkatan usia harapan hidup, kualitas pendidikan, daya saing ekonomi, hingga penurunan emisi—bukan sekadar ukuran teknis, melainkan cerminan daya lentur bangsa dalam menghadapi perubahan zaman. Dalam perspektif ini, pembangunan menjadi arena pembentukan peradaban, di mana kepemimpinan, nilai ideologis, dan strategi kebijakan saling berpadu untuk menentukan masa depan negara.
Ditujukan bagi pemimpin dan calon pemimpin, pengambil kebijakan, akademisi, aparat negara, serta masyarakat luas, buku ini berfungsi sebagai rujukan strategis sekaligus ajakan reflektif. Ia mengingatkan bahwa keberhasilan Indonesia menuju 2045 tidak hanya ditentukan oleh sumber daya dan teknologi, tetapi oleh kualitas kepemimpinan dan konsistensi arah pembangunan nasional. Pada akhirnya, buku ini menegaskan bahwa angka simbolik 17–8–45 bukan hanya penanda sejarah kemerdekaan, melainkan ruh pembangunan masa depan—sebuah janji kolektif untuk menunaikan cita-cita bangsa melalui kepemimpinan visioner dan ketahanan nasional yang kokoh.

Spesifikasi Buku

ISBN : –

Kode Buku : –

Tahun Terbit  : Februari, 2026

Jumlah Halaman : – Halaman

Imprint : Press Lemhannas

Kategori : Pembangunan Nasional

Sub Kategori : –

Dimensi buku : –

Berat : – 

Penulis : 

Dr. Dadang Solihin, SE, MA

Komjen Pol. Drs. RZ

Panca Putra S., M.Si

Brigjen Pol. Dr. Riki Yanuarfi, S.Sos. S.H. M.Si.


Penerbit: Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia

 

Cover depan Navigasi Geopolitik Global-2.jpg
Cover belakang Navigasi Geopolitik Global-2.jpg

Sinopsis Buku

Sinopsis Buku : 

Navigasi Geopolitik Global:
Ketahanan Nasional Indonesia dan Lemhannas RI sebagai School of Geopolitics

Dunia abad ke-21 bukan lagi ruang yang stabil dan linear. Ia bergerak dalam pusaran fragmentasi kekuatan, rivalitas ideologi, perang teknologi, krisis multilateralisme, serta spektrum risiko global yang semakin kompleks dan saling berkelindan. Dalam lanskap geopolitik yang penuh ketidakpastian inilah Indonesia dituntut untuk tidak sekadar bertahan, tetapi tampil sebagai bangsa yang mampu membaca arah sejarah, merumuskan kepentingan nasional secara jernih, dan meneguhkan kedaulatannya di tengah kontestasi global. Navigasi Geopolitik Global hadir sebagai manifesto intelektual yang menempatkan geopolitik bukan sebagai kajian akademik semata, melainkan sebagai kesadaran strategis yang menentukan masa depan bangsa.

Buku ini memetakan secara tajam transisi tatanan dunia dari unipolar menuju multipolar, kembalinya politik kekuatan, pertarungan ideologi global, hingga fragmentasi ekonomi dan disrupsi teknologi yang membentuk struktur baru hubungan internasional. Geopolitik dipahami sebagai realitas multidimensional yang menembus seluruh sendi kehidupan berbangsa—dari ideologi, politik, dan ekonomi, hingga sosial budaya, pertahanan, dan keamanan. Dalam perspektif ini, ketahanan nasional bukan sekadar konsep pertahanan, tetapi kondisi dinamis yang mencerminkan kemampuan bangsa untuk bertahan, beradaptasi, dan menang dalam setiap perubahan zaman.

Indonesia, dengan posisi geostrategis di persilangan dua samudra dan dua benua, diposisikan bukan sebagai objek perebutan kekuatan global, melainkan sebagai subjek yang memiliki potensi menjadi kekuatan penyeimbang dan aktor strategis dunia. Namun potensi tersebut hanya dapat diwujudkan melalui kepemimpinan nasional yang visioner, kemandirian ekonomi, kohesi sosial yang kuat, penguasaan teknologi, serta konsistensi pada nilai-nilai Pancasila sebagai fondasi ideologis dan geopolitik bangsa. Buku ini menegaskan bahwa Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika bukan hanya konsensus nasional, tetapi jangkar strategis agar Indonesia tidak kehilangan arah dalam turbulensi global.

Melalui analisis yang sistematis dan integratif, pembaca diajak memahami bagaimana konflik kawasan, krisis ekonomi global, perubahan iklim, disrupsi digital, ketimpangan sosial, hingga perang narasi global memiliki implikasi langsung terhadap ketahanan nasional. Dalam dunia yang semakin ditentukan oleh kekuatan multidimensi—militer, ekonomi, teknologi, dan pengaruh ideologis—kekuatan internal bangsa menjadi benteng utama kedaulatan. Karena itu, pertumbuhan ekonomi yang inklusif, pemerataan pembangunan, kualitas sumber daya manusia, serta legitimasi politik dan kepercayaan publik ditempatkan sebagai faktor strategis dalam geopolitik modern.

Puncak refleksi buku ini terletak pada penegasan peran Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia sebagai School of Geopolitics—kawah candradimuka yang membentuk kesadaran strategis dan kepemimpinan nasional berkarakter Pancasila. Lemhannas RI diposisikan sebagai pusat pembentukan strategic culture bangsa, tempat di mana pemimpin ditempa untuk mampu membaca arah perubahan global, merumuskan kepentingan nasional secara berdaulat, dan mengarahkan Indonesia menuju Indonesia Emas 2045. Di sinilah geopolitik tidak hanya dipelajari, tetapi dihidupi sebagai instrumen perjuangan bangsa untuk menentukan nasibnya sendiri.

Ditujukan bagi para pemimpin dan calon pemimpin, pembuat kebijakan, akademisi, aparat negara, serta seluruh elemen bangsa, buku ini adalah ajakan untuk membangun kesadaran geopolitik sebagai bentuk tertinggi dari kesadaran kebangsaan. Ia mengingatkan bahwa sejarah tidak pernah berpihak kepada bangsa yang berjalan tanpa visi dan strategi. Masa depan Indonesia tidak ditentukan oleh kekuatan eksternal, tetapi oleh ketangguhan internal, kualitas kepemimpinan, dan kemampuan membaca perubahan dunia secara jernih.

Pada akhirnya, karya ini menegaskan satu pesan besar: dengan Pancasila sebagai bintang penuntun, ketahanan nasional sebagai fondasi kekuatan, dan Lemhannas RI sebagai pusat kesadaran strategis bangsa, Indonesia memiliki semua prasyarat untuk tidak sekadar menjadi bagian dari sejarah dunia—melainkan menjadi bangsa yang menentukan arah sejarahnya sendiri.

Spesifikasi Buku

ISBN : –

Kode Buku : –

Tahun Terbit  : Februari, 2026

Jumlah Halaman :  –

Imprint : Press Lemhannas

Kategori : Ketahanan dan Geopolitik Nasional

Sub Kategori : –

Dimensi buku : –

Berat : – 

Penulis : 

Dr. H. TB. Ace Hasan Syadzily, M. Si.

Dr. Dadang Solihin, S.E, M.A

Brigjen Pol Ade Ary Syam Indradi, S.H., S.I.K., M.H.

Editor 

Penerbit: Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia

Screenshot 2026-04-06 185254
Screenshot 2026-04-06 185134

Sinopsis Buku

Sinopsis Buku : 

Lompatan Kuantum Indonesia 2045 : Peran Strategis Alumni Lemhannas RI Menuju Indonesia Emas

Indonesia berada di titik krusial sejarahnya. Di tengah pusaran perubahan geopolitik global, disrupsi teknologi, dan kompetisi ekonomi yang semakin tajam, masa depan bangsa tidak lagi ditentukan oleh langkah-langkah gradual, tetapi oleh keberanian melakukan lompatan besar—quantum leap. Buku Lompatan Kuantum Indonesia 2045: Peran Strategis Alumni Lemhannas RI Menuju Indonesia Emas hadir sebagai peta strategis sekaligus manifesto kebangsaan untuk membawa Indonesia keluar dari jebakan negara berkembang menuju kekuatan global yang berdaulat, maju, dan berkeadilan. 
Berangkat dari kesadaran bahwa dunia sedang mengalami pergeseran kekuatan global dan revolusi teknologi yang disruptif, buku ini menegaskan bahwa Indonesia memiliki peluang historis untuk melakukan akselerasi pembangunan menuju satu abad kemerdekaan. Namun peluang tersebut hanya dapat diwujudkan melalui transformasi struktural yang menyeluruh—meliputi ekonomi, kelembagaan, kepemimpinan, hingga sistem ketahanan nasional. Dalam perspektif ini, pembangunan tidak lagi dipahami sebagai proses linear, tetapi sebagai transformasi strategis yang melompati berbagai keterbatasan struktural bangsa. 
Buku ini menguraikan secara komprehensif berbagai tantangan strategis yang dihadapi Indonesia di abad ke-21: dinamika geopolitik Indo-Pasifik, kompetisi geoekonomi dan teknologi, ketimpangan pembangunan, deindustrialisasi dini, serta kerentanan sistem ekonomi nasional. Di tengah tantangan tersebut, penulis menawarkan kerangka transformasi berbasis empat konsensus dasar bangsa—Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika—sebagai fondasi ideologis sekaligus arah kebijakan dalam menjaga identitas dan persatuan nasional. 
Selain itu, ulasan dalam buku ini juga menyajikan berbagai agenda strategis untuk mendorong lompatan pembangunan nasional. Mulai dari transformasi ekonomi menuju kedaulatan dan produktivitas tinggi, reforma agraria dan penguatan pengelolaan sumber daya nasional, hingga pengembangan koperasi kuantum sebagai model ekonomi kolektif berbasis gotong royong. Pendekatan ini menempatkan ekonomi rakyat sebagai motor utama pertumbuhan sekaligus instrumen pemerataan kesejahteraan. 
Dalam kerangka besar tersebut, Asta Cita diposisikan sebagai agenda strategis pembangunan menuju Indonesia Emas 2045. Penguatan ideologi Pancasila, pembangunan sumber daya manusia unggul, hilirisasi industri, reformasi birokrasi, serta pembangunan desa menjadi bagian integral dari strategi nasional yang terintegrasi. Seluruh agenda tersebut diarahkan untuk menciptakan sistem pembangunan yang inklusif, berkelanjutan, dan berdaya saing global. 
Keunggulan utama buku ini terletak pada penegasan peran alumni Lemhannas RI sebagai ekosistem kepemimpinan strategis bangsa. Mereka diposisikan bukan sekadar sebagai individu, tetapi sebagai jaringan nasional yang tersebar di berbagai sektor—pemerintahan, militer, bisnis, akademisi, hingga masyarakat sipil—yang memiliki kapasitas untuk menggerakkan transformasi nasional. Dengan wawasan geopolitik dan ketahanan nasional, alumni Lemhannas diharapkan menjadi agen perubahan yang mampu mengintegrasikan kebijakan, menjaga stabilitas, dan memperkuat daya saing bangsa. 
Buku ini juga menekankan pentingnya kepemimpinan nasional yang visioner, adaptif, dan berkarakter Pancasila. Kepemimpinan tidak lagi cukup bersifat administratif, tetapi harus mampu membaca arah perubahan global, mengelola risiko strategis, serta membangun kolaborasi lintas sektor. Dalam konteks inilah kepemimpinan strategis menjadi kunci utama dalam mewujudkan lompatan peradaban bangsa.
Sebagai penutup, buku ini merumuskan grand strategy dan roadmap Indonesia 2045 yang mencakup integrasi pembangunan ekonomi, teknologi, dan ketahanan nasional. Peta jalan ini tidak hanya memberikan arah kebijakan, tetapi juga menegaskan bahwa masa depan Indonesia harus dibangun melalui sinergi antara negara, masyarakat, dan dunia usaha dalam satu visi kebangsaan yang utuh. 
Ditulis oleh para pemikir strategis dengan latar belakang kepemimpinan nasional, buku ini bukan sekadar karya akademik, tetapi sebuah seruan intelektual dan panggilan sejarah. Ia mengajak seluruh anak bangsa untuk berani keluar dari zona nyaman pembangunan incremental menuju transformasi yang berani dan visioner.
Buku ini menegaskan satu pesan kunci: Indonesia tidak membutuhkan langkah kecil untuk menjadi negara maju—Indonesia membutuhkan lompatan besar. Dan lompatan itu hanya mungkin terjadi melalui kepemimpinan strategis, persatuan nasional, dan keberanian untuk berpikir melampaui batas.

Spesifikasi Buku

ISBN : –

Kode Buku : –

Tahun Terbit  : Maret 2026

Jumlah Halaman : 235 Halaman

Imprint : Press Lemhannas

Kategori : Ketahanan Nasional, Keamanan, Sosial Politik

Sub Kategori : Pertahanan Nasional

Dimensi buku : –

Berat : – 

Penulis : 

Jenderal TNI (Purn.) Prof. Dr. H. Dudung Abdurachman, S.E., M.M., M.H.
Prof Dr. Ir. Agus Pakpahan, M.S.
Dr. Dadang Solihin, S.E., M.A.
Ferry Preska Wathan, S.T., M.Sc.E.E., Ph.D.
Dr. H. Agus Suparman, S.E., M.M.

Penerbit: Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia

 

Selat Hormuz dan Ketahanan Nasional Indonesia: Strategi Geopolitik Menghadapi Disrupsi Global

Sinopsis Buku

Sinopsis Buku : 

Selat Hormuz dan Ketahanan Nasional Indonesia: Strategi Geopolitik Menghadapi Disrupsi Global

Satu kawasan jauh dari Indonesia justru memegang kendali atas stabilitas ekonomi nasional: Selat Hormuz. Buku Selat Hormuz dan Ketahanan Nasional Indonesia: Strategi Geopolitik Menghadapi Disrupsi Global membuka perspektif baru bahwa krisis energi global bukan sekadar isu eksternal, melainkan variabel strategis yang langsung menentukan masa depan Indonesia. 
Sebagai salah satu choke point paling vital di dunia, Selat Hormuz menjadi jalur bagi hampir seperlima distribusi minyak global. Setiap eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah—khususnya rivalitas Iran, Israel, dan Amerika Serikat—tidak hanya memicu ketegangan geopolitik, tetapi juga menciptakan efek domino terhadap harga energi, rantai pasok global, dan stabilitas ekonomi negara-negara importir seperti Indonesia. Buku ini menegaskan bahwa ketergantungan energi bukan sekadar persoalan ekonomi, tetapi merupakan kerentanan strategis nasional. 
Melalui pendekatan komprehensif, buku ini menguraikan keterkaitan erat antara geopolitik, geoekonomi, dan ketahanan nasional. Pembaca diajak memahami bagaimana konflik modern tidak lagi bersifat konvensional, melainkan berkembang menjadi konflik hibrida yang melibatkan energi, teknologi, informasi, hingga aktor non-negara melalui proxy war. Dalam lanskap seperti ini, negara yang tidak memiliki kesiapan strategis akan mudah terjebak dalam posisi reaktif dan rentan. 
Keunggulan buku ini terletak pada penggunaan kerangka Astagatra dan Wawasan Nusantara sebagai fondasi analisis. Ketahanan nasional dipahami sebagai sistem yang utuh—mengintegrasikan ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, serta pertahanan dan keamanan. Dengan pendekatan ini, krisis Selat Hormuz tidak dilihat sebagai ancaman sektoral, tetapi sebagai ancaman multidimensional yang menuntut respons terintegrasi lintas kebijakan. 
Lebih jauh, buku ini menawarkan pendekatan strategis melalui scenario planning berbasis game theory. Pendekatan ini memungkinkan Indonesia tidak hanya merespons krisis, tetapi juga mengantisipasi berbagai kemungkinan masa depan secara terukur. Negara didorong untuk bertransformasi dari sekadar price taker menjadi rule shaper dalam percaturan global, dengan memperkuat kemandirian energi, ketahanan ekonomi, serta kapasitas diplomasi strategis. 
Peran kepemimpinan nasional berkarakter Pancasila menjadi benang merah yang menegaskan arah transformasi tersebut. Kepemimpinan yang visioner, adaptif, dan berintegritas diposisikan sebagai kunci dalam mengelola ketidakpastian global, menjaga stabilitas nasional, sekaligus memanfaatkan peluang strategis di tengah krisis. 
Buku ini tidak berhenti pada analisis, tetapi melangkah lebih jauh dengan merumuskan grand strategy ketahanan nasional menuju Indonesia 2045. Penguatan sistem peringatan dini, integrasi kebijakan nasional, diplomasi energi, serta transformasi ekonomi menjadi bagian dari peta jalan menuju Indonesia yang tangguh, mandiri, dan berdaulat di tengah tatanan dunia baru. 
Ditulis oleh para pemikir strategis nasional, buku ini merupakan seruan intelektual sekaligus panduan kebijakan bagi para pengambil keputusan, akademisi, dan seluruh pemangku kepentingan. Ia mengajak pembaca untuk melihat bahwa masa depan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh faktor domestik, tetapi juga oleh kemampuan membaca dan mengelola dinamika global secara cerdas.
Buku ini menyampaikan pesan yang tegas: krisis global bukan untuk ditakuti, tetapi untuk diantisipasi dan dimanfaatkan. Dari Selat Hormuz, Indonesia diuji—apakah akan tetap menjadi penonton, atau bangkit sebagai kekuatan strategis yang mampu menentukan arah masa depan.

Spesifikasi Buku

ISBN :

Kode Buku :

Tahun Terbit  : Maret 2026

Jumlah Halaman : –

Imprint : Press Lemhannas

Kategori : Geopolitik Nasional

Sub Kategori : –

Dimensi buku : –

Berat :

Penulis :

Dr. H. TB. Ace Hasan Syadzily, M.Si.
Jenderal TNI (Purn.) Prof. Dr. H. Dudung Abdurachman, S.E., M.M., M.H.
Dr. Dadang Solihin, S.E., M.A.
Ferry Preska Wathan, M.M., M.Sc.E.E, Ph.D
Dr. H. Agus Suparman, S.E., M.M.

Penerbit: Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia

Membangun Sistem Pengukuran Ketahanan Nasional Berbasis SMART guna Menghadapi Tantangan Global

Sinopsis Buku

Sinopsis Buku : 

Membangun Sistem Pengukuran Ketahanan Nasional Berbasis SMART guna Menghadapi Tantangan Global

Di tengah lanskap global yang semakin tidak pasti—ditandai oleh rivalitas geopolitik, disrupsi teknologi, perang siber, krisis energi, perubahan iklim, hingga fragmentasi ekonomi dunia—ketahanan nasional tidak lagi cukup dipahami sebagai konsep normatif atau slogan kebangsaan. Ia harus hadir sebagai sistem yang hidup, terukur, dan mampu menjadi dasar pengambilan keputusan strategis negara. Buku ini menawarkan sebuah lompatan paradigma: mengubah ketahanan nasional dari wacana konseptual menjadi instrumen manajemen negara yang presisi, adaptif, dan berbasis data melalui pendekatan SMART—Specific, Measurable, Achievable, Relevant, dan Time-bound.
Berangkat dari kesadaran bahwa kekuatan bangsa tidak hanya ditentukan oleh potensi yang dimiliki, tetapi oleh kemampuan membaca secara objektif kekuatan dan kerentanannya, para penulis merumuskan sebuah arsitektur sistem pengukuran ketahanan nasional yang komprehensif. Buku ini menelusuri secara mendalam hakikat ketahanan nasional sebagai sistem dinamis yang dibangun dari interaksi trigatra dan pancagatra—geografi, demografi, sumber daya alam, ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, serta pertahanan dan keamanan—yang seluruhnya harus dikelola secara terintegrasi dan berkelanjutan. Tanpa sistem pengukuran yang jelas, ketahanan nasional berisiko menjadi konsep abstrak yang sulit dioperasionalkan dalam kebijakan publik.
Melalui pendekatan yang sistematis dan metodologis, buku ini tidak hanya menjelaskan konsep, tetapi juga merancang struktur indikator, model indeks, mekanisme pengumpulan dan validasi data, sistem monitoring dan evaluasi, hingga early warning system yang berfungsi sebagai “radar strategis” negara. Dengan demikian, ketahanan nasional ditempatkan sebagai bagian dari tata kelola pemerintahan modern yang berbasis bukti, akuntabel, dan visioner. Pengukuran tidak lagi sekadar aktivitas teknokratis, melainkan instrumen kepemimpinan strategis untuk membaca arah perubahan, mengantisipasi krisis, dan memastikan keberlanjutan pembangunan nasional.
Lebih jauh, buku ini menegaskan bahwa sistem pengukuran ketahanan nasional hanya akan efektif apabila didukung oleh kepemimpinan nasional yang berbasis data, transformasional, dan mampu mengintegrasikan seluruh sumber daya nasional. Dalam perspektif ini, ketahanan nasional bukan semata-mata soal bertahan dari ancaman, tetapi tentang kemampuan bangsa untuk beradaptasi, berinovasi, dan bahkan memimpin dalam percaturan global. Sistem pengukuran berbasis SMART menjadi fondasi bagi lahirnya budaya baru dalam pengelolaan negara: budaya yang menempatkan objektivitas, evaluasi berkelanjutan, dan sinergi lintas sektor sebagai pilar utama.
Ditulis oleh para pemikir dan praktisi dengan latar belakang strategis lintas bidang, buku ini menghadirkan sintesis antara konsepsi ketahanan nasional klasik dan pendekatan manajemen kinerja modern. Hasilnya adalah sebuah model operasional yang tidak hanya relevan secara akademik, tetapi juga aplikatif bagi perencanaan pembangunan, reformasi birokrasi, sistem pertahanan, hingga penguatan daya saing nasional.
Pada akhirnya, buku ini adalah sebuah panggilan intelektual sekaligus ajakan kebangsaan: bahwa menuju Indonesia Emas 2045, negara memerlukan kompas strategis yang mampu membaca kondisi riil bangsa secara jujur dan terukur. Sistem pengukuran ketahanan nasional berbasis SMART yang ditawarkan dalam buku ini merupakan fondasi penting untuk memastikan bahwa Indonesia tidak hanya mampu menghadapi gelombang perubahan global, tetapi juga tampil sebagai bangsa yang tangguh, adaptif, dan bermartabat dalam tatanan dunia baru.

Spesifikasi Buku

ISBN :

Kode Buku :

Tahun Terbit  : Maret, 2026

Jumlah Halaman : –

Imprint : Press Lemhannas

Kategori : Sistem Pengukuran Ketahanan Nasional

Sub Kategori : –

Dimensi buku : –

Berat :

Penulis :

Dr. Dadang Solihin, S.E, M.A.
Komjen Pol. Drs. RZ Panca Putra S., M.Si
Marsma TNI Aldrin Petrus Mongan, S.T., M.Hum., M.Han.
Prof. Dr. Ir. Dadan Umar Daihani, DEA, IPU, Asean Eng
Brigjen Pol Adri Irniadi, S.I.K., M.H.

Penerbit: Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia

 

Kebijakan Ekonomi Nasional: Meningkatkan Kedaulatan Ekonomi dan Kesejahteraan Rakyat

Sinopsis Buku

Sinopsis Buku : 

Kebijakan Ekonomi Nasional: Meningkatkan Kedaulatan Ekonomi dan Kesejahteraan Rakyat


Di tengah pusaran fragmentasi ekonomi dunia, rivalitas geopolitik, disrupsi teknologi, dan krisis beruntun yang mengubah wajah globalisasi, pertanyaan mendasar bagi Indonesia bukan lagi sekadar bagaimana tumbuh, tetapi bagaimana berdaulat. Kebijakan Ekonomi Nasional: Meningkatkan Kedaulatan Ekonomi dan Kesejahteraan Rakyat menghadirkan jawaban strategis atas tantangan tersebut dengan menempatkan ekonomi sebagai gatra utama ketahanan nasional—bukan semata instrumen pertumbuhan, melainkan fondasi kemandirian bangsa, penjaga stabilitas negara, dan jalan menuju keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Buku ini mengajak pembaca melihat kebijakan ekonomi dari perspektif yang lebih luas dan mendalam: sebagai proyek kebangsaan yang berakar pada nilai-nilai Pancasila, amanat konstitusi, dan Wawasan Nusantara. Dalam kerangka ini, stabilitas makroekonomi, ketahanan fiskal, kedaulatan moneter, sistem keuangan yang kuat, serta industrialisasi berbasis hilirisasi bukan hanya agenda teknokratis, melainkan instrumen strategis untuk menjaga kemerdekaan politik, memperkuat persatuan nasional, dan meningkatkan posisi tawar Indonesia dalam percaturan global. Kedaulatan ekonomi dimaknai sebagai kemampuan bangsa untuk mengelola sumber daya secara mandiri, mengurangi ketergantungan struktural, dan memastikan hasil pembangunan dinikmati secara adil oleh seluruh rakyat.

Melalui analisis yang sistematis dan integratif, buku ini memetakan dinamika ekonomi global pascakrisis beruntun—mulai dari perlambatan pertumbuhan dunia, perang dagang, proteksionisme, hingga restrukturisasi rantai pasok global—serta implikasinya terhadap ketahanan ekonomi nasional. Di tengah dunia yang semakin tidak pasti, Indonesia dituntut membangun fondasi domestik yang kokoh: memperkuat industri bernilai tambah, mengembangkan investasi berkualitas yang mendorong transfer teknologi, memperluas diplomasi ekonomi, serta menciptakan sumber daya manusia unggul sebagai motor transformasi struktural menuju negara maju.

Dimensi pemerataan pembangunan juga menjadi perhatian utama. Integrasi ekonomi wilayah, penguatan desa sebagai basis ketahanan, pembangunan kawasan timur Indonesia, serta konektivitas logistik nasional ditempatkan sebagai strategi geopolitik ekonomi untuk menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dalam perspektif ini, pertumbuhan tidak boleh meninggalkan siapa pun; kesejahteraan yang berkeadilan adalah prasyarat stabilitas sosial dan kekuatan bangsa.

Puncak refleksi buku ini terletak pada penegasan peran kepemimpinan nasional berkarakter Pancasila sebagai faktor penentu keberhasilan transformasi ekonomi. Kepemimpinan yang visioner, berintegritas, dan konsisten pada kepentingan nasional menjadi kunci untuk keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah dan melangkah menuju Indonesia Emas 2045. Reformasi struktural, ekonomi hijau, sinergi pemerintah–swasta–masyarakat, serta penguatan kelembagaan nasional dipaparkan sebagai agenda besar yang harus dijalankan secara berkelanjutan dan terarah.

Ditulis oleh para pemikir dan praktisi strategis yang ditempa dalam tradisi intelektual Lemhannas RI, buku ini bukan hanya karya akademik, tetapi juga manifestasi pengabdian kebangsaan. Ia menjadi panduan reflektif sekaligus peta jalan bagi para pemimpin, pengambil kebijakan, akademisi, dan seluruh elemen bangsa dalam merumuskan arah pembangunan ekonomi yang berdaulat dan berkeadilan.

Pada akhirnya, buku ini menegaskan satu pesan besar: masa depan Indonesia tidak ditentukan oleh kekuatan eksternal, tetapi oleh kemampuan bangsa ini membangun kedaulatan ekonominya sendiri. Ketika pertumbuhan berjalan seiring dengan pemerataan, ketika stabilitas menjadi fondasi kesejahteraan, dan ketika kebijakan ekonomi berpijak pada nilai-nilai Pancasila, maka Indonesia tidak hanya akan menjadi negara maju—tetapi juga bangsa yang berdaulat, tangguh, dan bermartabat di tengah perubahan dunia.

Spesifikasi Buku

ISBN : –

Kode Buku : –

Tahun Terbit  : Maret, 2026

Jumlah Halaman :  –

Imprint : Press Lemhannas

Kategori : Ekonomi Nasional

Sub Kategori : –

Dimensi buku : –

Berat : – 

Penulis : 

Dr. Dadang Solihin, S.E, M.A.

Komjen Pol. Drs. RZ Panca Putra S., M.Si 

Brigjen Pol Ade Ary Syam Indradi, S.H., S.I.K., M.H.

Dr. Hera Nugrahayu, M.Si

Brigjen TNI Erwin Rustiawan, S.Sos.,M.Tr.(Han)

Brigjen Pol Reeza Herasbudi, S.I.K., M.M.

Penerbit: Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia

Digital Governance untuk Ketahanan Nasional

Sinopsis Buku

Digital Governance untuk Ketahanan Nasional

Perkembangan teknologi digital telah mengubah cara negara bekerja, melayani masyarakat, dan merumuskan kebijakan publik. Pemerintahan tidak lagi dapat mengandalkan sistem birokrasi konvensional yang lambat dan hierarkis. Era digital menuntut pemerintahan yang lebih terbuka, responsif, terintegrasi, dan berbasis data. Dalam konteks inilah konsep digital governance menjadi semakin penting sebagai fondasi bagi transformasi tata kelola pemerintahan modern.

Buku Digital Governance menghadirkan pembahasan komprehensif mengenai bagaimana teknologi digital mentransformasi sistem pemerintahan, proses pengambilan keputusan, serta pola interaksi antara negara, masyarakat, dan sektor swasta. Melalui pendekatan konseptual dan analitis, buku ini menjelaskan bahwa digitalisasi pemerintahan bukan sekadar penggunaan teknologi informasi, tetapi merupakan perubahan paradigma dalam pengelolaan negara menuju tata kelola yang lebih transparan, akuntabel, dan partisipatif.

Di dalam buku ini, pembaca diajak memahami berbagai dimensi penting digital governance, mulai dari konsep dasar pemerintahan digital, perkembangan e-government, hingga integrasi sistem data dan layanan publik berbasis teknologi. Pembahasan juga menyoroti bagaimana pemanfaatan big data, kecerdasan buatan, sistem informasi pemerintahan, dan platform digital dapat meningkatkan efisiensi birokrasi sekaligus memperluas akses pelayanan publik bagi masyarakat.

Lebih jauh, buku ini mengulas berbagai tantangan yang dihadapi dalam implementasi pemerintahan digital, seperti kesiapan infrastruktur teknologi, keamanan data, kesenjangan literasi digital, serta perubahan budaya organisasi birokrasi. Transformasi digital dalam pemerintahan tidak hanya berkaitan dengan teknologi, tetapi juga memerlukan kepemimpinan yang visioner, reformasi kelembagaan, serta kolaborasi lintas sektor.

Dengan pendekatan yang sistematis dan argumentasi yang tajam, buku ini menawarkan perspektif strategis mengenai bagaimana negara dapat memanfaatkan teknologi digital untuk memperkuat kualitas tata kelola pemerintahan. Digital governance dipahami sebagai instrumen penting untuk mendorong pelayanan publik yang lebih cepat, pengambilan kebijakan berbasis data, serta partisipasi masyarakat yang lebih luas dalam proses demokrasi.

Ditulis dengan bahasa yang lugas dan analisis yang mendalam, buku ini menjadi referensi penting bagi mahasiswa, akademisi, birokrat, pembuat kebijakan, serta siapa pun yang ingin memahami transformasi pemerintahan di era digital.

Pada akhirnya, buku ini menegaskan satu hal penting: masa depan pemerintahan tidak hanya ditentukan oleh kekuatan institusi, tetapi juga oleh kemampuan negara memanfaatkan teknologi untuk menciptakan tata kelola yang adaptif, inovatif, dan berorientasi pada kepentingan publik.

Spesifikasi Buku

ISBN : –

Kode Buku : –

Tahun Terbit  : Maret, 2026

Jumlah Halaman :  –

Imprint : Press Lemhannas

Kategori : Pemerintahan dan Ketahanan Nasional

Sub Kategori : –

Dimensi buku : –

Berat : –

Penulis :

Dr. Dadang Solihin, S.E, M.A.
Komjen Pol. Drs. RZ Panca Putra S., M.Si
Prof. Dr. Ir. Dadan Umar Daihani, DEA, IPU, ASEAN Eng
Marsda TNI (Purn) Andi Heru Wahyudi
Kombes Pol Asep Darmawan, S.H., S.I.K.
Kolonel Inf Marzuki

Penerbit: Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia

Strategi Nasional Brain Circulation sebagai Kekuatan Geopolitik: Peran Lemhannas RI guna Mewujudkan Indonesia Emas 2045

Sinopsis Buku

Di abad ke-21, perebutan kekuatan antarnegara tidak lagi ditentukan semata oleh keunggulan militer atau kelimpahan sumber daya alam, melainkan oleh kemampuan mengelola manusia unggul sebagai pusat gravitasi peradaban. Mobilitas global talenta—mahasiswa, ilmuwan, profesional, technopreneur, dan pemimpin masa depan—telah menjelma menjadi arena baru dalam rivalitas geopolitik. Dalam konteks inilah buku Strategi Nasional Brain Circulation sebagai Kekuatan Geopolitik: Peran Lemhannas RI guna Mewujudkan Indonesia Emas 2045 hadir sebagai tawaran konseptual sekaligus peta jalan strategis untuk menempatkan sumber daya manusia sebagai fondasi kedaulatan bangsa.
Buku ini berangkat dari kegelisahan intelektual atas fenomena brain drain yang selama ini kerap dipandang sebagai persoalan migrasi individual semata. Melalui perspektif Geopolitik Nusantara dan paradigma Ketahanan Nasional, para penulis menegaskan bahwa perpindahan talenta adalah isu kedaulatan intelektual, produktivitas ekonomi, inovasi teknologi, hingga keberlanjutan kepemimpinan nasional. Ketika talenta terbaik tidak terhubung secara sistemik dengan agenda pembangunan, yang hilang bukan sekadar individu, melainkan masa depan transformasi bangsa. Namun buku ini tidak berhenti pada diagnosis. Ia menawarkan transformasi paradigma menuju brain circulation—sebuah strategi nasional yang memandang diaspora sebagai simpul jejaring global untuk transfer pengetahuan, investasi, diplomasi ilmiah, dan penguatan reputasi Indonesia di panggung dunia.
Disusun secara sistematis dan visioner, buku ini menelusuri arsitektur mobilitas talenta global, keterkaitannya dengan Astagatra Ketahanan Nasional, risiko strategis brain drain, hingga praktik terbaik berbagai negara dalam mengelola diaspora dan ekosistem inovasi. Analisis tersebut bermuara pada perumusan grand strategy nasional yang mencakup pembangunan ekosistem riset unggul, hilirisasi industri berbasis inovasi, reformasi birokrasi meritokratis, insentif repatriasi talenta, serta integrasi kebijakan lintas sektor dan lintas generasi. Dengan pendekatan ini, mobilitas global tidak lagi dipandang sebagai kehilangan, tetapi sebagai sirkulasi kekuatan yang memperkaya kapasitas kolektif bangsa.
Keunggulan buku ini terletak pada integrasi antara kerangka teoritis geopolitik, nilai-nilai kebangsaan, dan desain kebijakan yang operasional. Lemhannas RI diposisikan sebagai strategic orchestrator—kawah candradimuka kepemimpinan nasional sekaligus national strategic think tank yang mengarusutamakan pengelolaan talenta sebagai bagian dari pertahanan non-militer dan strategi ketahanan nasional jangka panjang. Kepemimpinan berkarakter Pancasila menjadi fondasi etis dalam merancang tata kelola talenta yang berorientasi pada integritas, keadilan sosial, persatuan, dan kepentingan nasional di tengah kompetisi global.
Lebih dari sekadar karya akademik, buku ini adalah seruan kebangsaan. Ia mengajak generasi muda dan diaspora Indonesia untuk bergerak ke dunia, menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, membangun jejaring global, namun tetap berakar kuat pada Ibu Pertiwi. Visi Indonesia Emas 2045 dipahami sebagai proyek peradaban yang hanya dapat diwujudkan melalui orkestrasi talenta secara visioner, terintegrasi, dan berketahanan nasional.
Pada akhirnya, buku ini menegaskan satu pesan besar: di era ketika talenta adalah kekuatan geopolitik, bangsa yang mampu mengelola sirkulasi manusianya akan menentukan arah sejarah. Dengan Wawasan Nusantara sebagai landasan, Ketahanan Nasional sebagai paradigma, dan Lemhannas RI sebagai pengarah strategis, Indonesia memiliki semua prasyarat untuk bertransformasi dari sekadar pengirim talenta menjadi pusat sirkulasi talenta dunia—menuju negara maju yang berdaulat, adil, dan bermartabat.

Spesifikasi Buku

ISBN : –

Kode Buku : –

Tahun Terbit  : Maret, 2026

Jumlah Halaman :  –

Imprint : Press Lemhannas

Kategori : Geopolitik Pertahanan Nasional

Sub Kategori : –

Dimensi buku : –

Berat : –

Penulis :

Dr. Dadang Solihin, S.E, M.A.
Dr. H. TB. Ace Hasan Syadzily, M. Si.
Ferry Wathan, Ph.D

Penerbit: Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia

Koperasi Kuantum sebagai Pilar Ketahanan Ekonomi Nasional

Sinopsis Buku

Koperasi Kuantum sebagai Pilar Ketahanan Ekonomi Nasional

Kekuatan sebuah bangsa tidak lagi hanya ditentukan oleh kapasitas militer atau stabilitas politik, tetapi juga oleh ketahanan sistem ekonominya. Dalam konteks inilah koperasi memperoleh kembali relevansi strategisnya sebagai instrumen ekonomi rakyat yang mampu memperkuat kemandirian bangsa. Buku Koperasi Kuantum sebagai Pilar Ketahanan Ekonomi Nasional: Pembelajaran dari Keling Kumang dalam Perspektif Lemhannas RI menghadirkan perspektif baru mengenai koperasi sebagai fondasi penting bagi pembangunan ekonomi Indonesia yang berdaulat, inklusif, dan berkelanjutan.
Berangkat dari refleksi terhadap dinamika ekonomi global yang ditandai oleh persaingan geoekonomi, disrupsi teknologi, krisis lingkungan, serta ketimpangan sosial yang semakin tajam, buku ini menegaskan bahwa Indonesia memerlukan paradigma ekonomi yang mampu menyeimbangkan pertumbuhan dengan keadilan sosial. Para penulis mengajak pembaca kembali kepada amanat konstitusi, khususnya Pasal 33 UUD 1945, yang menegaskan bahwa perekonomian nasional disusun sebagai usaha bersama berdasarkan asas kekeluargaan. Dalam kerangka tersebut, koperasi diposisikan bukan sekadar sebagai badan usaha, tetapi sebagai sistem sosial ekonomi yang mampu mengorganisasikan kekuatan kolektif masyarakat untuk mencapai kesejahteraan bersama.
Buku ini memperkenalkan konsep “koperasi kuantum”, sebuah pendekatan inovatif yang memandang koperasi sebagai sistem sosial yang dinamis, hidup, dan adaptif. Dalam perspektif ini, keberhasilan koperasi tidak hanya ditentukan oleh aspek finansial atau manajerial, tetapi juga oleh interaksi energi sosial di antara para anggotanya. Kepercayaan, solidaritas, kepemimpinan, partisipasi, serta pendidikan anggota dipahami sebagai energi kolektif yang mampu menciptakan lompatan pertumbuhan organisasi secara berkelanjutan. Pendekatan ini membuka cara pandang baru terhadap koperasi sebagai jaringan sosial yang memiliki kekuatan transformasional dalam pembangunan ekonomi.
Sebagai pijakan empiris, buku ini mengangkat pengalaman Koperasi Kredit Keling Kumang di Kalimantan Barat. Berawal dari komunitas kecil di wilayah pedalaman, koperasi ini berkembang menjadi organisasi ekonomi yang melayani ratusan ribu anggota dan memiliki dampak sosial ekonomi yang signifikan bagi masyarakat. Kisah pertumbuhan Keling Kumang menunjukkan bahwa ekonomi rakyat yang berbasis pada nilai kepercayaan, pendidikan anggota, serta kepemimpinan yang visioner mampu berkembang menjadi kekuatan ekonomi yang tangguh dan berkelanjutan. Fenomena ini menjadi bukti bahwa koperasi dapat berfungsi sebagai motor pembangunan ekonomi berbasis komunitas yang memperkuat kemandirian masyarakat.
Lebih jauh, buku ini mengkaji koperasi dalam perspektif ketahanan nasional sebagaimana dikembangkan oleh Lemhannas RI. Dalam kerangka Astagatra, ekonomi merupakan salah satu pilar utama kekuatan nasional. Sistem ekonomi yang inklusif dan berbasis pada partisipasi masyarakat luas akan memperkuat stabilitas sosial sekaligus meningkatkan daya tahan bangsa dalam menghadapi berbagai gejolak global. Oleh karena itu, penguatan koperasi tidak hanya berkaitan dengan pembangunan ekonomi semata, tetapi juga menjadi bagian integral dari strategi memperkuat ketahanan nasional Indonesia.
Melalui pendekatan multidisipliner yang mengintegrasikan perspektif ekonomi Pancasila, geopolitik ekonomi, teori organisasi sosial, serta studi kasus empiris, buku ini menghadirkan analisis yang komprehensif mengenai masa depan koperasi di Indonesia. Para penulis menguraikan berbagai dimensi penting dalam penguatan koperasi modern, mulai dari kepemimpinan berbasis nilai Pancasila, pembangunan modal sosial, penguatan jaringan komunitas, hingga adaptasi koperasi terhadap perubahan teknologi dan ekonomi global. Semua pembahasan tersebut mengarah pada satu gagasan utama: koperasi bukan hanya lembaga ekonomi masa lalu, tetapi juga memiliki potensi besar untuk menjadi pilar ekonomi masa depan yang lebih inklusif dan berkeadilan.
Pada akhirnya, buku ini mengajak pembaca melihat koperasi dalam perspektif yang lebih luas—sebagai gerakan peradaban yang berakar pada nilai gotong royong dan solidaritas sosial. Di tengah dunia yang semakin kompetitif dan individualistik, koperasi menawarkan model ekonomi alternatif yang menempatkan manusia, kebersamaan, dan kesejahteraan kolektif sebagai inti pembangunan.
Melalui pembelajaran dari pengalaman Keling Kumang dan refleksi strategis mengenai ekonomi Pancasila, buku ini menegaskan satu pesan penting: masa depan kedaulatan ekonomi Indonesia sangat bergantung pada kemampuan bangsa untuk menghidupkan kembali kekuatan ekonomi rakyat. Koperasi yang kuat tidak hanya membangun kesejahteraan masyarakat, tetapi juga memperkokoh fondasi ketahanan nasional Indonesia di tengah dinamika dunia yang terus berubah.

Spesifikasi Buku

ISBN : –

Kode Buku : –

Tahun Terbit  : Maret, 2026

Jumlah Halaman :  –

Imprint : Press Lemhannas

Kategori : Ekonomi Nasional

Sub Kategori : –

Dimensi buku : –

Berat : –

Penulis :

Dr. Dadang Solihin, S.E, M.A.
Prof. Dr. Ir. Agus Pakpahan, M.S., Ph.D.
Komjen Pol. Drs. RZ Panca Putra S., M.Si
Dr. Tantri Relatami, S.Sos., M.I.Kom.
Brigjen Pol Dicky Sondani, S.I.K., M.H.
Brigjen TNI Bayu Tirtiyanto, S.Sos., M.Si., M.M., CGRA

Penerbit: Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia

Kebijakan Pangan Nasional: Untuk Kemandirian dan Kesejahteraan Indonesia

Sinopsis Buku

Kebijakan Pangan Nasional: Untuk Kemandirian dan Kesejahteraan Indonesia

Pangan bukan sekadar komoditas ekonomi, melainkan fondasi kedaulatan, stabilitas nasional, dan martabat sebuah bangsa. Dalam lanskap global yang semakin ditandai oleh krisis iklim, konflik geopolitik, disrupsi rantai pasok, dan proteksionisme pangan, kemampuan suatu negara untuk menjamin ketersediaan, akses, dan keberlanjutan pangannya menjadi ukuran nyata dari ketahanan nasional. Buku Kebijakan Pangan Nasional: Untuk Kemandirian dan Kesejahteraan Indonesia hadir sebagai refleksi strategis yang menempatkan pangan di jantung pembangunan bangsa—bukan sebagai isu sektoral, tetapi sebagai instrumen geopolitik, pertahanan nonmiliter, dan perekat persatuan dalam kerangka Wawasan Nusantara.
Disusun oleh para pemikir dan praktisi strategis dari Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia, buku ini menawarkan pendekatan yang utuh dan lintas dimensi. Ketahanan pangan dibahas melalui perspektif ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, pertahanan dan keamanan, serta tata kelola pemerintahan. Pangan diposisikan sebagai hak dasar warga negara sekaligus simbol kehadiran negara dalam menjamin keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Dengan merujuk pada Empat Konsensus Dasar—Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika—kebijakan pangan ditafsirkan sebagai manifestasi nilai kebangsaan dan mandat konstitusional untuk mengelola sumber daya alam sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat.
Buku ini menelusuri dinamika sistem pangan nasional secara menyeluruh: dari produksi, distribusi, dan akses pangan, hingga standar ketahanan pangan global, resiliensi sistem pangan berkelanjutan, digitalisasi sektor pangan, dan reformasi tata kelola kelembagaan. Ketimpangan antarwilayah, ketergantungan pada impor komoditas strategis, kerentanan petani kecil, serta tantangan perubahan iklim diurai sebagai persoalan struktural yang tidak hanya berdampak pada ekonomi, tetapi juga pada kohesi sosial dan stabilitas politik. Dalam konteks negara kepulauan, distribusi pangan dipahami sebagai proyek geopolitik kebangsaan—setiap jalur logistik yang menjangkau pulau-pulau terluar adalah simbol nyata kehadiran negara dan pengokoh keutuhan NKRI.
Lebih jauh, buku ini menegaskan pentingnya sinergi antara negara, pasar, dan masyarakat dalam mewujudkan kemandirian pangan. Negara berperan sebagai pengarah dan pelindung kepentingan nasional, pasar sebagai penggerak efisiensi dan inovasi, serta masyarakat sebagai subjek utama ketahanan pangan. Kesejahteraan petani, reforma agraria, regenerasi sumber daya manusia pangan, peran perempuan, serta keadilan harga ditempatkan sebagai prasyarat bagi terciptanya sistem pangan yang berdaulat dan berkelanjutan. Transformasi digital dan kedaulatan data pangan juga dibahas sebagai dimensi baru yang menentukan arah masa depan kebijakan pangan nasional.
Sebagai karya strategis, buku ini tidak berhenti pada diagnosis, tetapi merumuskan arah kebijakan pangan nasional menuju Indonesia mandiri dan sejahtera. Diversifikasi pangan berbasis kearifan lokal, penguatan produksi domestik, integrasi cadangan pangan nasional, diplomasi pangan regional, serta pembangunan sistem pangan yang tangguh terhadap krisis menjadi bagian dari peta jalan menuju Indonesia Emas 2045. Di atas semua itu, buku ini menegaskan bahwa keberhasilan kemandirian pangan sangat ditentukan oleh kepemimpinan nasional yang berkarakter Pancasila—kepemimpinan yang visioner, berani melakukan reformasi struktural, berpihak pada rakyat, dan berorientasi pada kepentingan nasional jangka panjang.
Ditujukan bagi para pemimpin dan calon pemimpin, pengambil kebijakan, akademisi, serta seluruh pemangku kepentingan, buku ini adalah undangan intelektual untuk memandang pangan sebagai benteng terakhir kedaulatan bangsa. Ia mengingatkan bahwa masa depan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh kekuatan ekonomi dan teknologi, tetapi oleh kemampuan bangsa ini berdiri tegak di atas kemandirian pangannya sendiri.
Pada akhirnya, karya ini menegaskan satu pesan mendasar: ketika pangan dikelola sebagai hak rakyat, sebagai instrumen persatuan, dan sebagai strategi nasional, maka Indonesia tidak hanya mampu memberi makan seluruh rakyatnya, tetapi juga meneguhkan dirinya sebagai bangsa yang berdaulat, tangguh, dan bermartabat dalam percaturan global.

Spesifikasi Buku

ISBN : –

Kode Buku : –

Tahun Terbit  : Maret, 2026

Jumlah Halaman :  –

Imprint : Press Lemhannas

Kategori : Ekonomi Nasional

Sub Kategori : –

Dimensi buku : –

Berat : –

Penulis :

Dr. Dadang Solihin, S.E, M.A.
Laksdya TNI Edwin, S.H., M.Han., M.H.
Laksda TNI Awang Kurniawan
Kolonel Inf. Dr Slamet Winarto, S.E., M.A.P.
Kolonel Inf. Dec Jerry Manungkalit, S.I.P.
Diah Ikawati, MAPS.

Penerbit: Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia

Koperasi Kuantum Sebagai Pilar Ketahanan Ekonomi Nasional: Pembelajaran dari Keling Kumang dalam Perspektif Lemhannas RI

Sinopsis Buku

Koperasi Kuantum Sebagai Pilar Ketahanan Ekonomi Nasional: Pembelajaran dari Keling Kumang dalam Perspektif Lemhannas RI
Kekuatan sebuah bangsa tidak lagi hanya ditentukan oleh kapasitas militer atau stabilitas politik, tetapi juga oleh ketahanan sistem ekonominya. Dalam konteks inilah koperasi memperoleh kembali relevansi strategisnya sebagai instrumen ekonomi rakyat yang mampu memperkuat kemandirian bangsa. Buku Koperasi Kuantum sebagai Pilar Ketahanan Ekonomi Nasional: Pembelajaran dari Keling Kumang dalam Perspektif Lemhannas RI menghadirkan perspektif baru mengenai koperasi sebagai fondasi penting bagi pembangunan ekonomi Indonesia yang berdaulat, inklusif, dan berkelanjutan.
Berangkat dari refleksi terhadap dinamika ekonomi global yang ditandai oleh persaingan geoekonomi, disrupsi teknologi, krisis lingkungan, serta ketimpangan sosial yang semakin tajam, buku ini menegaskan bahwa Indonesia memerlukan paradigma ekonomi yang mampu menyeimbangkan pertumbuhan dengan keadilan sosial. Para penulis mengajak pembaca kembali kepada amanat konstitusi, khususnya Pasal 33 UUD 1945, yang menegaskan bahwa perekonomian nasional disusun sebagai usaha bersama berdasarkan asas kekeluargaan. Dalam kerangka tersebut, koperasi diposisikan bukan sekadar sebagai badan usaha, tetapi sebagai sistem sosial ekonomi yang mampu mengorganisasikan kekuatan kolektif masyarakat untuk mencapai kesejahteraan bersama.
Buku ini memperkenalkan konsep “koperasi kuantum”, sebuah pendekatan inovatif yang memandang koperasi sebagai sistem sosial yang dinamis, hidup, dan adaptif. Dalam perspektif ini, keberhasilan koperasi tidak hanya ditentukan oleh aspek finansial atau manajerial, tetapi juga oleh interaksi energi sosial di antara para anggotanya. Kepercayaan, solidaritas, kepemimpinan, partisipasi, serta pendidikan anggota dipahami sebagai energi kolektif yang mampu menciptakan lompatan pertumbuhan organisasi secara berkelanjutan. Pendekatan ini membuka cara pandang baru terhadap koperasi sebagai jaringan sosial yang memiliki kekuatan transformasional dalam pembangunan ekonomi.
Sebagai pijakan empiris, buku ini mengangkat pengalaman Koperasi Kredit Keling Kumang di Kalimantan Barat. Berawal dari komunitas kecil di wilayah pedalaman, koperasi ini berkembang menjadi organisasi ekonomi yang melayani ratusan ribu anggota dan memiliki dampak sosial ekonomi yang signifikan bagi masyarakat. Kisah pertumbuhan Keling Kumang menunjukkan bahwa ekonomi rakyat yang berbasis pada nilai kepercayaan, pendidikan anggota, serta kepemimpinan yang visioner mampu berkembang menjadi kekuatan ekonomi yang tangguh dan berkelanjutan. Fenomena ini menjadi bukti bahwa koperasi dapat berfungsi sebagai motor pembangunan ekonomi berbasis komunitas yang memperkuat kemandirian masyarakat. 
Lebih jauh, buku ini mengkaji koperasi dalam perspektif ketahanan nasional sebagaimana dikembangkan oleh Lemhannas RI. Dalam kerangka Astagatra, ekonomi merupakan salah satu pilar utama kekuatan nasional. Sistem ekonomi yang inklusif dan berbasis pada partisipasi masyarakat luas akan memperkuat stabilitas sosial sekaligus meningkatkan daya tahan bangsa dalam menghadapi berbagai gejolak global. Oleh karena itu, penguatan koperasi tidak hanya berkaitan dengan pembangunan ekonomi semata, tetapi juga menjadi bagian integral dari strategi memperkuat ketahanan nasional Indonesia.
Melalui pendekatan multidisipliner yang mengintegrasikan perspektif ekonomi Pancasila, geopolitik ekonomi, teori organisasi sosial, serta studi kasus empiris, buku ini menghadirkan analisis yang komprehensif mengenai masa depan koperasi di Indonesia. Para penulis menguraikan berbagai dimensi penting dalam penguatan koperasi modern, mulai dari kepemimpinan berbasis nilai Pancasila, pembangunan modal sosial, penguatan jaringan komunitas, hingga adaptasi koperasi terhadap perubahan teknologi dan ekonomi global. Semua pembahasan tersebut mengarah pada satu gagasan utama: koperasi bukan hanya lembaga ekonomi masa lalu, tetapi juga memiliki potensi besar untuk menjadi pilar ekonomi masa depan yang lebih inklusif dan berkeadilan.
Pada akhirnya, buku ini mengajak pembaca melihat koperasi dalam perspektif yang lebih luas—sebagai gerakan peradaban yang berakar pada nilai gotong royong dan solidaritas sosial. Di tengah dunia yang semakin kompetitif dan individualistik, koperasi menawarkan model ekonomi alternatif yang menempatkan manusia, kebersamaan, dan kesejahteraan kolektif sebagai inti pembangunan.
Melalui pembelajaran dari pengalaman Keling Kumang dan refleksi strategis mengenai ekonomi Pancasila, buku ini menegaskan satu pesan penting: masa depan kedaulatan ekonomi Indonesia sangat bergantung pada kemampuan bangsa untuk menghidupkan kembali kekuatan ekonomi rakyat. Koperasi yang kuat tidak hanya membangun kesejahteraan masyarakat, tetapi juga memperkokoh fondasi ketahanan nasional Indonesia di tengah dinamika dunia yang terus berubah.

Spesifikasi Buku

ISBN : –

Kode Buku : –

Tahun Terbit  : Maret, 2026

Jumlah Halaman :  –

Imprint : Press Lemhannas

Kategori : Ekonomi Nasional

Sub Kategori : –

Dimensi buku : –

Berat : –

Penulis :

Dr. Dadang Solihin, S.E., M.A.
Komjen Pol. Drs. RZ Panca Putra S., M.Si.
Prof. Dr. Ir. Agus Pakpahan, M.S.
Dr. Tantri Relatami, S.Sos., M.I.Kom.
Brigjen Pol Dicky Sondani, S.I.K., M.H.
Brigjen TNI Bayu Tirtiyanto, S.Sos., M.Si., M.M., CGRA, CGCAE

Penerbit: Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia

Kelapa Sawit Untuk Kesejahteraan Bangsa : Strategi Lompatan Kuantum Menuju Indonesia Emas 2045

Sinopsis Buku

Sinopsis Buku : 

Kelapa sawit bukan sekadar komoditas. Ia adalah poros kekuatan ekonomi, instrumen geopolitik, dan fondasi ketahanan nasional Indonesia. Buku Kelapa Sawit untuk Kesejahteraan Bangsa: Strategi Lompatan Kuantum Menuju Indonesia Emas 2045 menghadirkan perspektif baru yang tegas: masa depan Indonesia sangat ditentukan oleh bagaimana bangsa ini mengelola sawit—bukan hanya sebagai sumber devisa, tetapi sebagai aset strategis yang menentukan arah peradaban nasional.

Di tengah dinamika global yang kompleks, sawit ditempatkan dalam pusaran geopolitik dunia. Ia menjadi komoditas yang diperebutkan, diperdebatkan, sekaligus dijadikan alat tekanan dalam perdagangan internasional. Indonesia, sebagai produsen terbesar dunia, berada pada posisi paradoks: memiliki dominasi produksi, tetapi belum sepenuhnya menguasai rantai nilai global. Buku ini membongkar akar persoalan tersebut—mulai dari struktur ekonomi yang timpang, ketergantungan pada ekspor bahan mentah, hingga lemahnya penguasaan teknologi dan industri hilir.

Lebih jauh, buku ini menegaskan bahwa sawit memiliki peran strategis dalam berbagai dimensi pembangunan. Ia menjadi sumber devisa, pencipta lapangan kerja bagi jutaan rakyat, penggerak ekonomi pedesaan, hingga penopang ketahanan energi melalui biodiesel. Dalam kerangka ketahanan nasional, sawit tidak berdiri sendiri, tetapi terintegrasi dalam sistem Astagatra yang mencakup aspek ekonomi, sosial, politik, lingkungan, dan pertahanan. Dengan pendekatan ini, sawit diposisikan sebagai pilar utama stabilitas dan kedaulatan bangsa.

Namun, potensi besar tersebut belum sepenuhnya terwujud. Buku ini mengurai paradoks ekspansi sawit yang luas tetapi minim nilai tambah. Indonesia masih terjebak sebagai price taker dalam sistem ekonomi global—menguasai produksi, tetapi tidak mengendalikan harga. Ketimpangan antara korporasi besar dan petani kecil, lemahnya kelembagaan, serta warisan struktural sejak era kolonial menjadi hambatan serius dalam mewujudkan keadilan ekonomi.

Sebagai jawaban, buku ini menawarkan strategi lompatan kuantum—sebuah pendekatan transformasional yang melampaui perbaikan incremental. Hilirisasi industri, penguatan koperasi modern, integrasi hulu-hilir, digitalisasi, hingga pengembangan bioekonomi menjadi agenda utama. Sawit harus bertransformasi dari komoditas mentah menjadi basis industrialisasi nasional berbasis inovasi dan teknologi.

Dalam konteks global, buku ini juga mengupas persaingan strategis antara Indonesia dengan Malaysia, tekanan regulasi dari Uni Eropa, serta peran China dan India sebagai pasar utama. Dinamika ini menunjukkan bahwa sawit adalah arena geopolitik yang kompleks, di mana diplomasi ekonomi, standar keberlanjutan, dan kekuatan pasar saling berinteraksi. Indonesia dituntut tidak hanya bertahan, tetapi menjadi aktor yang mampu membentuk aturan permainan global.

Kunci dari seluruh transformasi ini terletak pada kepemimpinan nasional berkarakter Pancasila. Kepemimpinan yang visioner, integratif, dan berorientasi pada kepentingan rakyat menjadi penentu keberhasilan dalam mengelola sawit sebagai instrumen kedaulatan. Peran strategis Lemhannas RI dalam membentuk kader pemimpin bangsa juga menjadi bagian penting dalam arsitektur perubahan tersebut.

Buku ini bukan sekadar kajian akademik. Ia adalah peta jalan strategis menuju Indonesia Emas 2045—sebuah visi tentang bangsa yang mampu keluar dari jebakan komoditas, menguasai rantai nilai global, dan menghadirkan kesejahteraan yang adil bagi seluruh rakyat.

Pada akhirnya, buku ini menegaskan satu hal: sawit adalah ujian sekaligus peluang. Jika dikelola dengan visi dan keberanian, ia akan menjadi fondasi kedaulatan dan kemakmuran bangsa. Namun jika diabaikan, ia justru menjadi sumber ketergantungan. Dari sawit, masa depan Indonesia dipertaruhkan—dan ditentukan.

Spesifikasi Buku

ISBN :

Kode Buku :

Tahun Terbit  : April, 2026

Jumlah Halaman : 410 Halaman

Imprint : Press Lemhannas

Kategori :

Sub Kategori : –

Dimensi buku :

Berat :

Penulis : 

Dr. Dadang Solihin, S.E., M.A.
D r. H. TB. Ace Hasan Syadzily, M. Si.
Prof. Dr. Ir. Agus Pakpahan, M.S.
Prof. Dr. Ir. Dadan Umar Daihani, DEA, IPU, ASEAN Eng
Vicky Fernando, S.E., M.Ak., CRMO, CBV, CTIA

Penerbit: Lemhannas Press

Reorientasi Kuantum Gula Indonesia: Strategi Geopolitik dan Game Theory untuk Ketahanan Nasional

Sinopsis Buku

Sinopsis Buku : 

Reorientasi Kuantum Gula Indonesia: Strategi Geopolitik dan Game Theory untuk Ketahanan Nasional
 

Gula selama ini kerap dipandang sebagai komoditas sederhana. Namun buku Reorientasi Kuantum Gula Indonesia: Strategi Geopolitik dan Game Theory untuk Ketahanan Nasional membalik cara pandang tersebut secara fundamental. Gula ditempatkan bukan sekadar sebagai bahan konsumsi, melainkan sebagai instrumen strategis negara yang menentukan ketahanan ekonomi, stabilitas sosial, dan kedaulatan nasional. 

Berangkat dari realitas bahwa Indonesia telah bergeser dari eksportir menjadi importir besar, buku ini menyajikan diagnosis tajam atas krisis struktural industri gula nasional—mulai dari produktivitas rendah, kelembagaan lemah, hingga dominasi kepentingan oligarkis. Persoalan gula tidak lagi dilihat sebagai masalah teknis sektoral, tetapi sebagai kegagalan sistemik yang memerlukan perubahan paradigma secara menyeluruh. 

Untuk menjawab tantangan tersebut, buku ini menawarkan pendekatan inovatif melalui cara pandang kuantum dan Game Theory. Industri gula dipahami sebagai sistem kompleks yang melibatkan interaksi strategis antara negara, petani, industri, dan pasar global. Tanpa desain kebijakan yang tepat, interaksi ini hanya menghasilkan keseimbangan semu yang merugikan kepentingan nasional. Karena itu, negara harus hadir sebagai arsitek permainan (game designer) yang mampu mengatur insentif, mengelola konflik, dan mengarahkan sistem menuju hasil optimal bagi bangsa. 

Buku ini juga menempatkan gula dalam lanskap geopolitik dan geoekonomi global yang sarat rivalitas, proteksionisme, dan distorsi pasar. Dalam konteks tersebut, ketergantungan impor bukan sekadar persoalan ekonomi, tetapi merupakan kerentanan strategis yang dapat mengancam kedaulatan. Oleh karena itu, reorientasi pergulaan nasional harus menjadi bagian dari strategi besar pembangunan nasional berbasis Pancasila dan Wawasan Nusantara. 

Lebih jauh, buku ini merumuskan agenda transformasi yang komprehensif: penguatan kelembagaan berbasis koperasi kuantum, hilirisasi industri, integrasi agroindustri, hingga pemanfaatan teknologi dan bioekonomi. Semua diarahkan untuk menciptakan sistem pergulaan yang adil, efisien, berkelanjutan, dan berdaya saing global. 

Keunggulan buku ini terletak pada keberaniannya menggabungkan perspektif geopolitik, ekonomi, dan teori strategis dalam satu kerangka utuh. Ia tidak hanya menawarkan analisis, tetapi juga grand strategy nasional untuk mengubah posisi Indonesia dari price taker menjadi system shaper dalam industri gula dunia. 

Ditulis oleh para pemikir strategis nasional, buku ini merupakan seruan intelektual sekaligus agenda perubahan. Ia mengajak pembaca—khususnya pengambil kebijakan, akademisi, dan praktisi—untuk melihat gula sebagai pintu masuk menuju kedaulatan ekonomi dan ketahanan nasional.

Buku ini menegaskan satu pesan: kedaulatan bangsa tidak hanya ditentukan oleh kekuatan militer atau teknologi, tetapi juga oleh kemampuan mengelola komoditas strategisnya. Dan dari gula, kebangkitan itu bisa dimulai.

Spesifikasi Buku

ISBN : –

Kode Buku : –

Tahun Terbit  : Mei, 2026

Jumlah Halaman :  –

Imprint : Press Lemhannas

Kategori : Ketahanan Ekonomi Nasional

Sub Kategori : –

Dimensi buku : –

Berat : –

Penulis :

Dr. Dadang Solihin, S.E, M.A.
D r. H. TB. Ace Hasan Syadzily, M. Si.
Prof. Dr. Ir. Agus Pakpahan, M.S.
Vicky Fernando, S.E, M.Ak, CRMO, CBV, CTIA

Penerbit: Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia

Narkoba 2.0 Dan Perang Asimetris Digital: Strategi Negara Memperkuat Ketahanan Nasional Indonesia

Sinopsis Buku

Sinopsis Buku : 

Narkoba 2.0 Dan Perang Asimetris Digital: Strategi Negara Memperkuat Ketahanan Nasional Indonesia
 

Di abad ke-21, perang tidak selalu datang dengan dentuman senjata. Ia hadir diam-diam melalui layar gawai, transaksi anonim, dan jaringan digital yang sulit dilacak. Buku Narkoba 2.0 dan Perang Asimetris Digital: Strategi Negara Memperkuat Ketahanan Nasional Indonesia mengajak pembaca melihat ancaman narkoba dari perspektif yang jauh lebih besar: bukan sekadar kejahatan hukum atau persoalan kesehatan, melainkan ancaman strategis terhadap masa depan bangsa.  

Buku ini memotret transformasi wajah narkoba di era digital. Sindikat tidak lagi bekerja secara konvensional. Mereka memanfaatkan dark web, cryptocurrency, komunikasi terenkripsi, kecerdasan buatan, hingga jaringan tanpa hierarki untuk menjalankan operasi lintas negara secara senyap dan adaptif. Dalam lanskap baru ini, narkoba berubah menjadi instrumen perang asimetris yang menyerang kualitas sumber daya manusia, merusak stabilitas sosial, dan melemahkan ketahanan nasional dari dalam.  

Dengan pendekatan multidisipliner, buku ini mengurai bagaimana posisi geopolitik Indonesia yang strategis justru menjadikannya rentan terhadap infiltrasi jaringan narkoba global. Indonesia bukan hanya pasar potensial, tetapi juga jalur transit penting dalam pusaran perdagangan narkotika internasional yang terus berkembang. Ancaman itu semakin kompleks ketika generasi muda—terutama Generasi Z dan Alpha—menjadi sasaran utama penetrasi narkoba digital.  

Keunggulan buku ini terletak pada keberaniannya menggabungkan teori strategis dengan realitas lapangan. Pembaca diajak memahami ancaman narkoba melalui pendekatan Iceberg Model, Game Theory, Quantum Leap, hingga strategi Ends–Ways–Means. Semua disusun untuk menunjukkan bahwa perang melawan narkoba tidak bisa lagi dilakukan secara sektoral dan reaktif. Negara membutuhkan lompatan besar: reformasi regulasi, penguatan intelijen siber, integrasi data nasional, hingga kolaborasi lintas lembaga dan lintas negara.  

Lebih dari itu, buku ini menegaskan bahwa perang melawan narkoba bukan hanya tugas aparat penegak hukum. Ini adalah perjuangan kolektif bangsa. Keluarga, pendidikan, masyarakat, dunia digital, hingga kepemimpinan nasional harus bergerak dalam satu arah yang sama. Sebab narkoba modern bekerja tidak hanya menghancurkan tubuh, tetapi juga menyerang moral, budaya, ekonomi, bahkan ideologi bangsa.  

Ditulis oleh para pemikir strategis dari unsur kepolisian, militer, dan kebijakan publik, buku ini menghadirkan analisis yang tajam, sistematis, dan visioner. Setiap bab dirancang bukan hanya untuk menjelaskan ancaman, tetapi juga menawarkan arah solusi yang konkret dan adaptif menghadapi era digital yang terus berubah.  

Pada akhirnya, buku ini menyampaikan pesan yang kuat: perang terbesar bangsa hari ini bukan hanya menjaga wilayah, tetapi menjaga manusia Indonesia. Karena ketika generasi muda runtuh oleh narkoba, yang sesungguhnya sedang dipertaruhkan adalah masa depan Indonesia itu sendiri.

Spesifikasi Buku

ISBN : –

Kode Buku : –

Tahun Terbit  : Mei, 2026

Jumlah Halaman :  –

Imprint : Press Lemhannas

Kategori : Narkoba dan Ketahanan Digital Nasional

Sub Kategori : –

Dimensi buku : –

Berat : –

Penulis :

Dr. Dadang Solihin, S.E, M.A.
Komjen Pol. Drs. RZ Panca Putra S., M.Si.
Mayjen TNI Dr. Joseph Robert Giri, S.I.P., M.Si., M.H.I., M.Han., CGCAE.
Brigjen Pol. Dr. Riki Yanuarfi, S.Sos., S.H., M.Si.

Penerbit: Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia

Transformasi Lemhannas RI: Memperkokoh Ketahanan Nasional untuk Mewujudkan Asta Cita Menuju Indonesia Emas 2045

Sinopsis Buku

Sinopsis Buku : 

Transformasi Lemhannas RI: Memperkokoh Ketahanan Nasional untuk Mewujudkan Asta Cita Menuju Indonesia Emas 2045
 

Indonesia menghadapi tantangan besar untuk tetap berdiri sebagai bangsa yang berdaulat, tangguh, dan bermartabat. Dalam situasi itu, buku Transformasi Lemhannas RI: Memperkokoh Ketahanan Nasional untuk Mewujudkan Asta Cita Menuju Indonesia Emas 2045 hadir sebagai refleksi strategis sekaligus peta jalan kebangsaan menuju masa depan Indonesia. 

 

Buku ini menegaskan bahwa ketahanan nasional tidak lagi dapat dimaknai secara sempit sebagai pertahanan fisik dan militer semata. Ketahanan nasional pada abad ke-21 adalah kemampuan bangsa untuk bertahan, beradaptasi, dan melakukan transformasi di tengah ancaman multidimensional—mulai dari perang siber, disinformasi digital, krisis energi dan pangan, hingga persaingan penguasaan teknologi dan kecerdasan buatan. Dalam konteks tersebut, Indonesia membutuhkan kepemimpinan strategis, tata kelola modern, dan kesadaran geopolitik yang kuat agar mampu menjadi bangsa unggul di tengah perubahan global yang sangat cepat. 

 

Melalui pendekatan yang visioner dan berbasis pengalaman empiris, penulis menguraikan perjalanan historis dan filosofi ketahanan nasional Indonesia, mulai dari kesadaran geopolitik para pendiri bangsa hingga tantangan kontemporer di era Indo-Pasifik. Buku ini memperlihatkan bagaimana konsep Ketahanan Nasional Indonesia berkembang sebagai living knowledge yang harus terus direvitalisasi agar tetap relevan menghadapi dinamika global yang terus berubah. 

 

Keunggulan utama buku ini terletak pada keberaniannya menawarkan transformasi Lemhannas RI sebagai strategic brain of the nation. Lemhannas RI diposisikan bukan sekadar lembaga pendidikan kepemimpinan nasional, tetapi pusat pengembangan geopolitik, pengkajian strategis, pemantapan nilai kebangsaan, dan penguatan sistem ketahanan nasional berbasis teknologi, big data, serta artificial intelligence. Dalam buku ini, transformasi kelembagaan dipandang sebagai syarat mutlak agar Lemhannas RI tetap relevan dan mampu menjawab tantangan masa depan bangsa. 

 

Buku ini juga mengupas secara mendalam konsep quantum leap Indonesia menuju 2045. Penulis menegaskan bahwa Indonesia tidak cukup bergerak secara gradual dan administratif. Bangsa ini membutuhkan lompatan besar melalui penguatan sumber daya manusia unggul, kepemimpinan visioner, penguasaan teknologi, hilirisasi industri, serta revitalisasi nilai-nilai Pancasila dan Wawasan Nusantara. Semua itu menjadi fondasi penting dalam membangun Indonesia sebagai kekuatan dunia baru yang berdaulat dan berdaya saing global. 

 

Dengan pendekatan multidisipliner, buku ini memadukan perspektif geopolitik, systems thinking, strategic foresight, game theory, hingga balanced scorecard dalam membaca persoalan bangsa secara integral. Pembaca diajak memahami bahwa krisis ekonomi, polarisasi sosial, disrupsi digital, hingga ancaman ideologi bukanlah persoalan yang berdiri sendiri, melainkan saling terhubung dalam sistem nasional yang kompleks. Karena itu, solusi terhadap tantangan bangsa harus dilakukan secara holistik, kolaboratif, dan visioner. 

 

Ditulis oleh Komjen Pol. Drs. RZ Panca Putra S., M.Si., yang memiliki pengalaman panjang dalam kepemimpinan strategis nasional, buku ini menghadirkan perpaduan antara refleksi intelektual, pengalaman birokrasi strategis, dan visi kebangsaan yang kuat. Bahasa yang lugas, argumentatif, dan kaya perspektif menjadikan buku ini relevan bagi akademisi, pengambil kebijakan, aparat negara, peserta pendidikan Lemhannas RI, generasi muda, hingga seluruh elemen bangsa yang peduli terhadap masa depan Indonesia.

Pada akhirnya, buku ini menyampaikan satu pesan penting: Indonesia Emas 2045 tidak akan lahir hanya dari pertumbuhan ekonomi semata, tetapi dari bangsa yang memiliki ketahanan nasional kokoh, kepemimpinan visioner, dan karakter kebangsaan yang tidak tercerabut dari nilai-nilai Pancasila. Karena di tengah dunia yang penuh ketidakpastian, hanya bangsa yang tangguh dan mampu bertransformasi yang akan memimpin masa depan.

Spesifikasi Buku

ISBN : –

Kode Buku : –

Tahun Terbit  : Mei, 2026

Jumlah Halaman :  –

Imprint : Press Lemhannas

Kategori : Transformasi Lemhannas

Sub Kategori : –

Dimensi buku : –

Berat : –

Penulis :

Dr. Dadang Solihin, S.E, M.A.
Komjen Pol. Drs. R.Z. Panca Putra S., M.Si.

Penerbit: Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia

Koleksi Buku - Lemhannas RI

Memuat Koleksi Lemhannas RI...

🚀 Dasbor Manajemen Koleksi

📂 Database Buku Terdaftar

Judul Buku Tahun Aksi